2. KEBENARAN FILSAFAT : kebenaran kodrati karena merupakan hasil usaha manusia melalui proses perenungan/berfikir secara nemdasar/mendalam mengenai sesuatu filsafat dilakukan manusia di dalam dan dengan kesadarannya yang tidak pernah berhenti berfikir untuk mencari hakekat kebenaran. tentang obyek yang dipikirkannya obyek itu termasuk dirinya sendiri sebagai manusia, yang disebut filsafat manusia ( anthopologi filsafat).
Kesimpulannya: kebenaran agama itu mutlak adanya tapi bagi penganutnya.
kebenaran filsafat: - kebenaran kodrati
- proses
- pemikiran
- sumber
kebenaran agama: karena mutlak
ilmu pengetahuan: karena sesuatu
kebenaran menurut ilmu pengetahuan bersifat nisbi tetapi berbeda dengan kebenaran agama
filsafat bersifat nisbi sebagai hasil berpikir manusia untuk memenuhi keingintahuaannya dalam mencari mengungkapkan kebenaran yang selalu mungkin dan dapat berubah dan berkembang.
- Filsafat diterima kebenarannya dengan akal sehat ( comon sense) tanpa perlu di buktikan secara empiris. Filsafat yang diterima kebenarannya oleh akal sehat ( common sense) sekelompok besar manusia disebut aliran filsafat, meskipun tidak diterima kebenarannya oleh kelompok manusia lain seperti rasionalisme, realisme, idealisme dll. Kondisi itu terjadi karena dasar dan cara berpikir manusia dalam berfilsafat tidak sama 1 dengan yang lain.
- Dalam berfilsafat objeknya sama tapi hasil berfilsafat bisa beda.
- Filsafat dalam kesemestaannya mencari hakekat kebenaran segala sesuatu yang dapat dipikirkan sebagai obyek berfikir, taermasuk agama dan ilmu /pengetahuan.
- Filsafat agama adalah hasil berfikir manusia bisa tentang ajaran agama secara mendalam dan mendasar bukan agama, yang menghasilkan berbagai aliran seperti telah dikatakan dahulu disebut tarekat/tasawuf/teologi.
- Sumber kebenaran filsafat adalah hasil usaha manusia yang tidak sempurna, selalu mungkin dan dapat keliru/salah dalam berfikir mencari kebenaran karena manusia tidak dapat lepas dari sifat khilaf dan alpa.
- Kebenaran filsafat bersifat apriori yang di terima kebenarannya melalui proses berfikir ( rasional) yang bersifat fundamantal /mendasar dan mendalam tanpa perlu di buktikan secara empiris.
- Suatu kebenaran filsafat mungkin di terima oleh sekelompok manusia, tetapi ditolak kelompok manusia yang berbeda akal sehat ( common sense) masing-masing.
- Kebenaran filsafat bukan kebenaran sektoral, faktual dan bukan pula kebenaran empiris. Kebenaran fildafat benar demi pikiran sehat ( common sense) bukan kebenaran ilmu yang benar karena bukti dan bukan pula kebenaran agama yang benar karena keimanan.
Ilmu dan agama dapat manjadi objak berfikir filsafat, yang berarti juga dalam wilayah filsafat terdapat filsafat ilmu dan wilayah filsafat agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar