Rabu, 23 Januari 2013

psy ank & rmj


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Umar bin Khatab, seorang bijak yang hidup di abad ke 7 masehi, memberikan pernyataan yang sangat terkenal : “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu” . Suatu pernyataan yang seolah sangat sederhana, tetapi memiliki aplikasi yang cukup rumit di dalam pelaksanaannya. Jangankan kita membandingkan dengan kondisi sekitar 14 abad yang lampau, dengan 40-50 tahun yang lampau saja dengan kondisi di Indonesia, tantangan di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak sangatlah berbeda. Fenomena yang paling menonjol adalah perbedaan dalam hal menanamkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan seorang anak untuk membekali dirinya sendiri dalam menghadapi masa depannya. Misalnya Anak di zaman dahulu lebih mandiri terhadap pendidikan mereka sendiri, sedangkan orang tua hanya sebagai pendukung. Banyak fakta menunjukkan itu. Antara lain, tak sedikit anak zaman dahulu yang mendaftarkan sendiri ketika mereka masuk SMP, SMA, terlebih perguruan tinggi. Sedangkan anak zaman sekarang sepertinya berbanding terbalik dengan hal itu. Sekarang, justru orang tua yang terlihat sibuk terhadap pendidikan anak-anak mereka padahal pada saat bersamaan, anak justru terlihat tenang dan sangat tergantung dengan orang tua. Tanpa disadari usia terus bertambah sementara kecemasan orang tua bukannya berkurang. Anak dan Remaja bukan yang sama sekali tidak mempedulikan pendidikan mereka, tetapi ‘belajar’ seringkali dipersepsikan sebagai kegiatan yang membebani dan mereka terlihat asyik dengan minat-minat pribadinya sendiri yang bersifat spesifik.
Salah satu penyebab utama konflik orang tua dan remaja adalah adanya perbedaan antargenerasi. Perbedaan ini melibatkan kepercayaan, emosi, dan pilihan-pilihan.  Hal-hal ini telah  menghasilkan salah pengertian, ketegangan, dan konflik terbuka antaranggota keluarga.   Konflik dapat muncul dari segala macam isu. Mulai masalah memutuskan hal keuangan, memilih baju, model rambut, rekreasi, dan hal-hal religius, musik, makanan, atau masalah moral.

B.     Rumusan Masalah
1.      Fenomena Saat Ini ?
2.      Bagaimana Menyikapi Perbedaan Zaman dan Pola Asuh Yang Sesuai ?
3.      Bagaimana Gaya Hidup dan Pergaulan Remaja
4.      Perbedaan Remaja Dulu dan Dini ?
5.      Sumber Kehidupan Remaja ?

C.     Tujuan
1.      Mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan sikap percaya diri, menjaga emosi, dan bersikap toleransi terhadap remaja yang lain.
2.      Kita bisa belajar mengembangkan rasa sosial, karena kondisi dan latar belakang orang tua yang berbeda.
3.      Memupuk kemandirian terhadap pendidikan kita sendiri.
 









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Fenomena Saat Ini
Sebagai praktisi di bidang Psikologi Pendidikan dan Keluarga, kami mendapatkan begitu banyak rekaman hasil pemeriksaan Psikologi (psikotes) yang memperlihatkan anak-anak Indonesia di usia 5 – 6 tahun, sudah memiliki kematangan berpikir yang baik. Mereka memiliki daya tangkap menerima informasi baru yang cepat, memiliki pengamatan yang tajam, daya pikir kritis sudah terasah sejak kecil dan daya ingat yang kuat. Tetapi di sisi lain kami pun banyak mendapatkan hasil yang memperlihatkan kondisi perkembangan dengan kecepatan perkembangan pola pikir kurang diimbangi dengan kematangan kemampuan koordinasi motorik dan kematangan emosi yang memadai. Di usia TK misalnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan TV atau berjalan ke sana kemari di sekitar rumahnya (karena banyak yang tidak boleh bermain di luar rumah), anak-anak usia SD pun sibuk dengan mainan yang sedang trend saat itu, bermain game atau menonton TV. Untuk usia remaja mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama teman sebayanya, pergi ke tempat-tempat di mana banyak juga seusia mereka berkumpul (seringkali mall) dan kurang mempedulikan apakah tugas yang telah mereka selesaikan sudah memenuhi target yang diberikan. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka yang bersifat rutin sudah ada yang memikirkan, apakah orang tuanya ataukah pengasuh jika orang tua keduanya bekerja. Sehingga anak-anak ini terbentuk menjadi anak-anak yang sibuk berpikir dan mencari apa yang bisa membuat dirinya tidak bosan, tetapi mereka sendiri kurang memahami kebutuhan dasar yang seharusnya mereka penuhi terlebih dahulu. Sudah banyak kasus yang memperlihatkan anak dan remaja terlalu asyik main game sehingga lupa mandi dan makan. Jika ditanyakan kepada orang tua mengapa semudah itu anak mendapatkan bantuan, orang tua akan beralasan bahwa itu dilakukan agar anak-anak dapat lebih konsentrasi belajar karena jaman sekarang materi pelajaran di sekolah semakin berat dan pekerjaan rumah semakin banyak. Padahal yang terjadi adalah semakin banyak bantuan yang diberikan, kebutuhan seseorang untuk melakukan sendiri pun semakin menurun, ia akan lebih banyak mengandalkan orang lain. Anak-anak dan remaja dengan banyaknya bantuan dan permakluman seperti ini lebih banyak yang tumbuh sebagai seorang yang kurang percaya diri, mudah mengeluh, mudah mencari bantuan, motivasi berusaha kurang, tidak siap gagal dan pada akhirnya menjadi seorang yang egois karena ingin orang lain memaklumi kekurangan dirinya. Dalam sebuah survei terhadap 27.000 orang yang berusia 12 - 19 tahun dari seluruh dunia, ditemukan bahwa generasi remaja masa kini dicirikan oleh beberapa hal:
1.      Sangat berpusat pada diri sendiri dan ingin memuaskan keinginannya tanpa pikir panjang. Mereka terbiasa dengan musik keras, tato, dll. Mereka kurang dalam hal inisiatif, dan motivasi. 
2.      Mereka percaya bahwa kesuksesan tergantung pada diri mereka sendiri, Mencari kerja yang baik menjadi prioritas mereka.
3.      Dalam kehidupan yang sangat sulit, mereka merindukan keluarga sebagai tempat menghadapi kesulitan hidup.
4.      Mereka membutuhkan identifikasi pada kebutuhan pasar, seperti memakai sepatu atlet terkenal, minum Coca - Cola, dll.
5.      Remaja sekarang terbiasa berbelanja. Mereka membeli barang yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan. Ironisnya, contoh ini mereka dapatkan dari pengaruh iklan.
6.      Mereka sangat senang melakukan perjalanan dan petualangan, termasuk menjelajah lewat internet.
7.      Mereka senang mengoleksi CD, menonton televisi, "chatting", dll. Akhirnya, kecanduan media.
8.      Di sisi lain, mereka adalah generasi yang sangat rindu untuk bisa hidup senang dan bahagia.

B.     Gaya Hidup dan Pergaulan Remaja
Konsumsi juga merupakan gambaran gaya hidup tertentu dari kelompok status tertentu. Konsumsi terhadap barang merupakan landasan bagi penjenjangan dari kelompok status, konsumsi juga dapat dijadikan penggunaan barang - barang simbolik kelompok tertentu. Dalam hal ini konsumsi seseorang menentukan gaya hidup seseorang. Seperti pemilihan konsumsi gaya berpakaian, selera dalam hiburan, makanan dan minuman menentukan dari kelas mana ia berada. Konsumsi atau perbedaan selera terhadap suatu barang juga dapat menggeser norma yang ada di dalam suatu masyarakat. Norma budaya dan agama tidak lagi dijadikan pedoman dalam berperilaku, suatu masyarakat yang tadinya merasa segan untuk menunjukkan kekayaan miliknya sekarang tidak segan dengan mengkonsumsi barang-barang tertentu ia ingin menunjukkan identitas dirinya misalnya saja masyarakat abangan yang memiliki selera mengkonsumsi barang-barang dari produk Barat. Masyarakat abangan dengan pengaruh media informasi banyak mengikuti gaya berpakaian yang mengikuti dunia barat karena pada               abangan dalam hubungan manusia dengan agama bukan merupakan keharusan agama tidak harus menjadi tuntutan perilaku, ia digantikan oleh etika sosial yang dikonstruksi masyarakat atas kenyataan. Misalnya wanita abangan menggunakan tank top, rok mini, celana jeans, gaya rambut rebonding.
Masyarakat santri adalah kebalikannya, hubungan antara manusia dan agama merupakan kemutlakan. Agama haruslah menjadi tuntunan perilaku. Ia menjadi rujukan apakah suatu perilaku itu baik atau tidak. Perkembangan masyarakat santri telah pula menyebabkan menjamurnya rumah – rumah mode yang khusus memperdagangkan busana muslim dan muslimah. Berkembangnya toko - toko yang khusus menjual produk - produk yang berhubungan dengan simbol - simbol keagamaan seperti buku - buku, pakaian yang dinilai islami. Perkembangan teknologi informasi bukan hanya menawarkan gaya pakaian muslim dan muslimah tetapi juga semakin maraknya film-film Islami di televisi, dan lagu-lagu Islami. Bahkan acara reality show pencarian da’i.
Zaman sekarang di abad 20 ini pergaulan remaja semakin berkembang dari yang baik sampai yang buruk,  dan banyak yang bilang bila pergaulan remaja saat ini sudah sangat jauh berubah dibanding pada masa-masa sepuluh tahun silam, dan remaja sekarang lebih mampu berekspresi pada emosi dan mengungkapkan perasaan tanpa sembunyi-sembunyi dan malu seperti dulu. Bisa kita ambil contoh kalau zaman sekarang para wanita lebih berani mengatakan cintanya kepada laki - laki beda sekali dengan zaman dulu yang dimana wanita masih malu-malu untuk melakukan itu. Dibawah ini ada beberapa faktor yang dapat mempegaruhi pergaulan remaja, yaitu:
1.      Keluarga / Orang Tua
Peran keluarga amatlah penting dalam memberikan pengarahan,  karena orag tua itu sangat besar pengaruhnya terhadap pergaulan anaknya. Jika orang tuanya mengajarkan yang baik - baik, misalnya: tatakrama, pengetahuan agama, sopan santun dll. Maka anak tersebut akan nenerapkan juga di lingkungan luarnya dan ia pun  mencari pergaulan yang hampir sama dengan lingkungan keluarganya.
2.      Lingkungan
Lingkungan dalam pergaulan remaja ini pun tak kalah pentingya dengan keluarga, jika remaja tersebut tinggal dan bergaul di lingkungan yang buruk maka ia akan terbawa buruk juga misalnya remaja tersebut hidup di lingkungan yang kebanyakan orang –orangnya selalu berbuat yang tidak baik misalnya berjudi berpakaian seksima bisa jadi anaknya tersebut akan terpengaruh pergaulan yang seperti itu akan tetapi sebaliknya jika anak tersebut tinggal dan bergaul di lingkungan yang baik maka anak tersebut secara tidak langsung akan mengikuti perilaku baik tersebut.
3.      Spiritual
Pendidikan spiritual seharusnya di tanamkan kepada para remaja sejak dini agar tercipta suatu remaja yang berahklak dan berbudi luhur baik, karena remaja yang berakhlak akan membuat moral remaja tersebut menjadi baik dan remaja tersebut mempunyai pegangan dalam hidupnya, karena suatu agama adalah pegangan bagi manusia di dunia ini. Keagamaan tersebut bisa di dapat dari keluarga, lingkungan, dan  kehidupan sehari-harinya.
C.     Menyikapi Perbedaan Zaman dan Pola Asuh Yang Sesuai
Jika kita telaah bersama, perbedaan mendasar anak-anak dan remaja yang dibesarkan sekitar 40 – 50 tahun yang lalu dengan anak-anak dan remaja yang dibesarkan di era millennium ini, adalah pada semakin banyak dan bervariasinya stimulus atau rangsangan yang dapat mereka amati dan dengarkan. Sementara di saat yang sama terjadi perubahan kondisi lingkungan sosial di mana peralatan yang bersifat manual semakin banyak digantikan oleh peralatan yang bersifat modern, sehingga sebenarnya dalam segi waktu penyelesaian akan lebih cepat dan memungkinkan banyak waktu yang lebih luang untuk melakukan hal lain, namun kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan bagi anak, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah mereka, mendapatkan hiburan dari televisi atau jenis permainan lain dengan keterbatasan teman bermain dari sebaya mereka. Jika mereka memiliki kemewahan dapat bermain di luar rumah pun harus dengan pengawasan pembantu atau pengasuh. Sebenarnya hal ini tidaklah semuanya salah, tetapi ada hal yang sangat berbeda dalam pemberlakuan pola asuh pada keluarga-keluarga sekarang, yaitu:
1.      Penerapan Kedisiplinan
Disiplin sendiri merupakan suatu pola pembiasaan yang bertujuan untuk membentuk suatu tingkah laku tertentu. Dalam disiplin terkandung adanya tingkah laku yang berulang yang dilakukan dan biasanya melibatkan waktu tertentu untuk melakukannya. Sehingga terbentuk suatu tingkah laku yang terjadi secara otomatis tanpa banyak melibatkan analisa ataupun pertimbangan untuk melakukannya. Suatu bentuk disiplin akan terbentuk dengan sendirinya pada seorang anak jika:
a.       orang tua menerapkannya secara consisten tidak berubah-ubah sesuai suasana hati orang tua atau hanya tergantung saat orang tua ada bersama anak. Yang tak kalah penting adalah pada keluarga yang memiliki lebih dari 1 anak maka harus ada keadilan pada setiap anak bahwa aturan tersebut berlaku untuk mereka tanpa kecuali.
b.      Anak pun perlu memahami tujuan dari pemberlakukan dari disiplin tersebut. Salah satu upaya untuk mencapai pemahaman anak adalah dengan keteladanan terutama dari orang tua.
c.       Orang tua tidak mudah menyerah dan tidak mudah marah jika tingkah laku disiplin tidak tercapai pada anak dalam waktu yang singkat.
d.      Semakin bertambah usia seorang anak tuntutan lingkungan social terhadap dirinya semakin tinggi sementara ketidakdisiplinan ini sudah terpola sehingga akan semakin sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku umum.
2.      Pola Komunikasi
Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah pola komunikasi yang terjadi. Memang saat ini relasi orang tua – anak dapat dikatakan sudah lebih hangat dan komunikatif karena anak sudah lebih berani mengungkapkan apa yang menjadi pemikirannya. Tetapi mengenai pendidikan dan cita-cita, seringkali orang tua memiliki terlalu banyak referensi, sementara mereka kurang menyiapkan anak-anaknya dengan bekal keterampilan motorik dan kekuatan mental yang memadai. Memanfaatkan teknologi sebagai sarana komunikasi memang dapat dilakukan, tetapi yang terpenting adalah saat pertemuan secara fisik, yaitu:
a.       orang tua dapat memanfaatkan bahasa tubuh secara optimal, misalnya berbicara dengan anak sambil menatap matanya dan pastikan anak pun terbiasa berbicara dengan menatap orang tuanya.
b.      Pengalaman komunikasi anak dengan orang tua akan terpatri kuat dan membentuk pribadi di masa dewasanya.
c.       Penggunaan intonasi suara yang tepat dan anak memahami esensi pembicaraan.
d.      Dengan kehangatan yang telah terjalin di masa usia dini, sejalan dengan pertambahan usia anak ungkapan kasih sayang tidak selalu harus dengan kedekatan fisik, tetapi lebih mengembangkan komunikasi dua arah yang berimbang.
D.    Perbedaan Remaja Dulu dan Dini
Disamping itu kita perlu memahami beberapa perbedaan remaja masa kini dan remaja beberapa dekade lalu, diantaranya:
1.      Teknologi
Dulu, anak remaja hanya hidup dengan radio dan televisi (TV). Sekarang, mereka diperhadapkan dengan TV kabel, satelit, atau internet yang menciptakan dunia global yang tidak dialami remaja masa lampau. Mereka memiliki akses TV ke seluruh kebudayaan. Segala jenis kebutuhan mereka, menyangkut hiburan, musik, mode, dll., terpenuhi. CD, VCD, MP3 adalah sahabat mereka sehari-hari. Sayangnya, jika tidak ada yang menyaring nilai yang mereka serap dari media TV, internet dsb., bagaimana mereka dapat memahami mana yang etis dan yang tidak; berkenan pada Tuhan atau tidak? Teknologi yang ada membuat remaja bersentuhan dengan dunia dan dunia menyentuh kehidupan remaja. Rangsangan budaya dibukakan lebih jauh pada remaja masa kini dari pada pada zaman orang tua mereka.
2.      Kendaraan
Kendaraan jaman sekarang sudah semakin canggih dan pesat dan membuat bahan bakar di bumi menjadi kritis, kalu di jaman dahulu orang masih memakai kendaraan yang menyehatkan (sepeda) dan jarang orang yang memakai kendaraan bermesin.
3.      Pacaran
Remaja kini rata-rata ingin dan sudah mempunyai pacar, kalau di jaman dahulu pacaran boleh tapi tidak di bebaskan seperti sekarang yang berpacaran dengan blak-blakan dan berbuat yang tidak di mestikan sebelum kita menikah, sehingga kini banyak orang yang NBA sebelum nikah karena pergaulan yang bebas, tetapi di jaman dahulu kita masih di batasi oleh orang tua dan pikiran sendiri, rata - rata orang jaman dahulu itu berlomba untuk menjadi orang sukses dan apabila sudah sukses baru mencari pendamping hidup.
4.      Mengenali Kekerasan
Perbedaan kedua adalah pengenalan akan kekerasan manusia. Banyak kekerasan diberitakan di media bioskop, film, TV, lagu, novel, dll.. Anak remaja menyukai film laga yang penuh dengan kekerasan. Mereka tidak menyadari dampak langsung dan tidak langsung dari media karena dampak tersebut sudah terlalu biasa bagi mereka. Tidak jarang, mereka justru melihat langsung perkelahian antar sekolah/remaja. Jadi, tidaklah mengherankan jika semakin banyak anak remaja yang terlibat dalam tindak kekerasan dan pembunuhan.
5.      Keluarga Yang Retak
Sebanyak 4 dari 10 remaja Amerika (39 persen) hidup atau tinggal hanya dengan 1 orang tua saja. Dan, 8 dari 10 kasus ini, yang absen adalah ayah. Kaum sosiologis berkata, "Belum pernah keluarga begitu berubah. Semakin banyak wanita karier, orang tua tunggal, kawin cerai, pasangan tanpa anak, `kumpul kebo`, dan `pasangan homo` yang mengangkat anak. Di samping itu, keluarga makin jauh dengan  tetangganya. Dulu, remaja kita bisa mengandalkan tetangga. Namun sekarang, itu tidak bisa dilakukan lagi.
6.      Pengertian dan Informasi Tentang Seks
Remaja masa kini tumbuh dalam sebuah dunia tanpa aturan seks. Bioskop, media cetak, TV, dan musik cenderung mengidentikkan seks dengan cinta. Media melukiskan seks sebagai bagian terpenting dari pacaran yang baik. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika semakin banyak remaja yang sangat aktif dalam melakukan hubungan seks. Remaja yang tidak aktif dalam melakukan aktivitas seksual malah menjadi bingung dan bertanya-tanya, "Apakah aku normal, ada apa dengan diriku?", "Apakah aku ada kekurangan yang penting?" Di pihak lain, dalam diri mereka yang aktif melakukan seks di luar pernikahan timbul perasaan bersalah.


7.      Nilai-Nilai Moral dan Agama
Pada masa ini, kehidupan moral dan agama sudah bukan lagi hal penting. Remaja semakin sulit mendefinisikan moral dan agama. Dulu, remaja mudah membedakan mana bermoral dan yang tidak. Sekarang, batasannya sangat tipis. Bermoral atau tidak bukan lagi didasarkan pada Al-qur’an, melainkan pada pendapat orang lain. Remaja tumbuh pada nilai-nilai moral. Mereka menganggap baik kalau kebanyakan temannya juga mengatakan bahwa itu baik. Jadi, nilai moral dan nilai baik sangat relatif.
E.     Sumber Kehidupan Remaja
Kini jaman udah berbeda dengan jaman - jaman dahulu, karena pengaruh hal-hal yang berasal dari berbagai macam sumber - sumber dari kehidupan remaja di jaman sekarang dan perbandingan kehidupan pada jaman dahulu dan sekarang. Sumbernya yaitu:
1.      Majunya Teknologi Yang Pesat.
Contohnya yaitu majunya Hand Phone yang begitu canggih, seperti BB yang sedang populer di kalangan masyarakat. Komputer yang semakin lama semakin maju, yang membuat pengguna komputer menjadi bisa membuat sesuatu dengan komputer itu, dan komputer oleh kalangan yang salah di pakai untuk menyimpan data-data, film-film, dan sesuatu yang negativ, seperti pengeditan foto yang semakin lama, semakin canggih, orang yang suka usil bisa memakai keahlian meng’edit foto untuk hal hal yang buruk seperti membuat foto dengan kepala artis yang sedang populer dengan mengganti bagian tubuhnya dengan gambar-gambar yang fullgar, dan ada lagi bagi pengguna koimputer yang keahlianya malah menjadi negativ, seperti membuat virus-virus komputer dari yang biasa-biasa saja hingga yang sangat fatal.
2.      Pergaulan Bebas
Rata-rata anak remaja jaman sekarang itu ingin bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, sehingga ia terjerumus kedalam pergaulan itu, yang paling gampang itu biasanya bagi para laki-laki itu salah satunya adalah “ROKOK”, karena mudah di dapat dan kebanyakan orang laki-laki yang suka berkumpul di suatu tempat menghisap rokok. Lalu bagi para perempuan biasanya ia tidak mau gengsi terhadap lawan jenis atau teman yang di anggap saingannya, ia ingin tampil di depan lelaki untuk menarik perhatian, sehingga terlewat batas dan di lihat oleh orang dengan negative, gengsi dengan teman sejenis biasanya dari barang barang yang di pakainya, dia tidak ingin kalah oleh temannya itu sehingga menjadi saingan / saling memamer.
3.      Keluarga Yang Terlalu Memanjakan
Remaja kini tidak berfikir panjang, contohnya kita kecil hingga SMA akhir kita masih bergantung pada orang tua, apakah kita tidak malu apabila kita sudah dewasa dan belum bisa menghasilkan uang sendiri atau masih meminta uang jajan atau sehari-hari kepada orang tua, sedangkan orangtua kita kerja keras hanya ingin membuat kita senang.















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
             Dari pembahasan di atas maka dapat kami simpulkan:
Setiap manusia, baik pada masa kanak-kanak, pada masa remaja bahkan pada masa dewasa, memiliki tingkatan pertumbuhan yang akan terjadi dalam menuju kedewasaannya. Dan pertumbuhan itu akan terjadi secara bertahap dan berangsur-angsur. Selain itu pula didalam proses pertumbuhan yang terjadi, perlu diperhatikan beberapa hal baik cirri-ciri pertumbuhan serta tugas masing-masing dalam tahap pertumbuhan anak. Untuk itu setiap manusia perlu memperhatikan pertumbuhan anak secara mendetail agar dalam proses pertumbuhannya, tidak mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan pada anak, yang akan mengakibatkan depresi pada anak, serta gaguan pada sistem syaraf anak.
B.     Saran
Untuk itulah makalah ini kami susun untuk membantu memahami psikologi anak yang terjadi pada usia remaja. Makalah ini perlu dibaca oleh kita, agar dapat mengerti cirri-ciri, tugas dan perbedaan remaja dulu dan dini.








DAFTAR PUSTAKA

-          http:// rahmaniyaonline.com
-          http:// anak & rmj/ 9639. html
-          http:// fahminaqnepal. Wodspress.com
-          http:// lailatur-rahman. blogspot. Com

PENGEMBANGAN KURIKULUM


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah (Nana Sukmadinata: 1997. Hlm: 150). Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidikan, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud member pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Sedangkan Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, yang mana didalamnya mencakup beberapa hal diantaranya adalah: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti:  di dalam mengembangkan sebuah kurikulum juga harus menganut beberapa prinsip dan melakukan pendekatan terlebih dahulu, sehingga di dalam penerapannya sebuah kurikulum dapat mencapai sebuah tujuan seperti yang di harapkan. Dan mengenai prinsip-prinsip dasar pengembangan kurikulum akan kami jelaskan selengkapnya dalam pembahasan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Prinsip-prinsip apakah yang dipakai dalam pengembangn kurikulum?
2.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?
3.      Artikulasi dan hambatan yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?
4.      Model-model apa saja yang digunakan dalam pengembangan kurikulum?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Dalam usaha untuk mengembangkan kurikulum ada beberapa prinsip dasar yang harus kita perhatikan, agar kurikulum yang kita jalankan benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Prinsip-prinsip dasar yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Menurut Nana Sukmadinata (1997:150) ada dua prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu prinsip umum dan prinsip khusus.
1.      Prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulun, diantaranya:
a.       Prinsip relevansi
Ada dua relevansi yang herus dimiliki kurikulum, yaitu:
a)      Relevansi keluar, maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan (sesuai) dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat.
b)      Relevansi di dalam, yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian.
b.      Prinsip  fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memilih sifat lentur/feksibel
c.       Prinsip kontinuitas
Prinsip kontinuitas yakni adanya kesinambungan antara berbagai tingkat sekolah, dan antara berbagai tingkat bidang studi dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal.

d.      Prinsip efisien
Prinsip efisien berhubungan dengan perbandingan antar tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh kurikulum dikatakan memiliki tingkat efesien yang tinggi apabila dengan sarana,biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.
e.       Prinsip efektivitas
Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
2.      Prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian.
a.       Perinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan.
b.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal yang sesuai dengan ke butuhan pendidikan dalam memilih isi pendidikan yaitu:
1)      Perlu penjabaran tujuan pendidikan
2)      Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap dan keterampilan
3)      Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis
c.       Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses  belajar mengajar
Dalam menentukan proses belajar mengajar hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kecocokan metode mengajar, variasi mengajar, urutan kegiatan, pencapaian tujuan, keaktifan, perkembangan, jalinan kegiatan belajar disekolah dan dirumah
d.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Beberapa prinsip yang dijadikan pegangan untuk menggunakan media atau alat bantu pembelajaran, yaitu:
1)      media atau alat yang diperlukan
2)      pengorganisasian alat
3)      pengintegrasian dalam kegiatan belajar
e.       Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi yaitu : objektifitas, komprehensif, kooperatif, mendidik, akuntabilitas, dan praktis.
B.     Faktor - faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum
Menurut Nana Sukmadinata (1997:158) ada tiga faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum:
1.      Perguruan tinggi
Perguruan tinggi setidaknya memberikan dua pengaruh terhadap kurikulum
Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Pengetahuan dan teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan teknologi selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan.
Kedua,  dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru diperguruan keguruan (lembaga pendidikan tenaga kependidikan). Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya.

2.      Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat, yang diantaranya bertugas mempersiapkan anak didik untuk dapat hidup secara bermartabat di masyarakat. Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di tempat sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi masyarakat penggunanya serta upaya memenuhi kebutuhan dan tuntutan mereka.
Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat yang homogen atau heterogen. Sekolah berkewajiban menyerap dan melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarkat akan mempengaruhi pengembangan kurikulum. Hal ini karena sekolah tidak hanya sekedar mempersiapkan anak untuk selesai sekolah, tetapi juga untuk dapat hidup, bekerja, dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat berimplikasi pada kurikulum yang dikembangkan dan digunakan sekolah.
3.      Sistem nilai
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertangung jawab dalam pemeliharaan dan pewarisan nilai-nilai positif yang tumbuh di masyarakat.
Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Persoalannya bagi pengembang kurikulum ialah nilai yang ada di masyarakat itu tidak hanya satu. Masyarakat umumnya heterogen, terdiri dari berbagai kelompok etnis, kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok sosial, dan kelompok spritual keagamaan, yang masing-masing kelompok itu memiliki nilai khas dan tidak sama. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politk, fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasi berbagai nilai yang tumbuh di masyarakat dalam kurikulum sekolah, diantaranya :
a.       Mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
b.      Berpegang pada prinsip demokratis, etis, dan moral.
c.       Berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru.
d.      Menghargai nlai-nilai kelompok lain.
e.       Memahami dan menerima keragaman budaya yang ada.
C.     Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum
Artikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar”. Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi, merevisi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan kurikulum. Bila artikulasi dilaksanakan dengan baik akan terwujud kesinambungan pengalaman belajar sejak TK sampai perguruan tinggi, juga antara satu bidang studi dengan bidang studi lainnya.
Dalam mengusahakan artikulasi kurikulum tersebut murid pun perlu dimintakan pendapatnya tentang hubungan pelajaran yang satu dengan yang lainnya, hubungan antara satu tingkat dengan tingkat berikutnya. Salah satu hal yang sering dipandang menghambat artikulasi adala pembagian menurut tingakat belajarnya.
Hambatan-hambatan Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan, yaitu
1.      Guru
Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal yaitu:
1)      Kurang waktu
2)      Kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator.
3)      Karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.
2.      Masyarakat
Untuk pengembangan kurikulum butuh dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan.
3.      Biaya
Untuk pengembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi, atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
D.    Model-Model Pengembangan Kurikulum
Dalam buku karangan Nana Sukmadinata (Pengembangan Kurikulum Teoritis Dan Praktis, 1997:161) ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu:
1.                   The administrative model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan membentuk suatu komisi/tim pengarah pengembangan kurikulum, tim kerja pengembangan kurikulum dan tim pengembang kurikulum. Tugas tim/komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah tim komisi selesai dalam menjalankan tugasnya, hasilnya akan dijadikan kurikulum yang sesungguhnya, yang lebih oprasional, dijabarkan dari konsep-konsep dan kebijaksanaan dasar yang telah digariskan oleh tim pengarah. Tugas ini dilaksanakan  oleh tim oleh tim kerja pengembangan kurikulum. Setelah tugas dari tim kerja pengembangan kurikulum selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang berwenang. Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan sekilah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tesebut.
2.                   The grass roots model
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan atau kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat gross roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk bidang studi sejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan morl grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
3.                   Beuchamp’s system
Model pengembangan kurikulum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan lima hal didalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu:
1.      Menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi atau seluruh negara.
2.      Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, diantaranya:
a.       Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar.
b.      Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih.
c.       Para profesional dalam sistem pendidikan.
d.      Profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
3.      Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Dan dalam menetukan keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu:
a.       Membentuk tim pengembang kurikulum.
b.      Mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan.
c.       Studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
d.      Merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru.
e.       Penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
4.      Implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping kesiapan menejerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat.
5.      Evaluasi kurikulum. Langkah ini mencakup empat hal, yaitu:
a.       Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru.
b.      Evaluasi desain kurikulum.
c.       Evaluasi hasil belajar siswa.
d.      Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.

4.                   The demonstration model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.
Menurut Smite, Stanlay, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini, yaitu:
1.      Sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum.
2.      Kurang bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.
Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini, yaitu:
1.      Karena kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dilaksanakan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih praktis.
2.      Perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh.
3.      Pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada.
4.      Modeel ini sifatnya yang grass roots menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru.
     Kelemahan model ini, adalah bagi guru-guru yang tidak turut berpartisipasi mereka akan menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan teburuk mungkin akan terjadi apatisme.
5.                   Taba’s inverted model
Menurut cara yang bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif, dengan urutan:
1.      Penentuan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan dasar.
2.      Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan atas komukmen-komikmen tertentu.
3.      Menyusun unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang menyeluruh.
4.      Melaksanakan kurikulum di dalam kelas.
Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum byang lebih mendorong inovasi dan kretivititas guru-guru adalah yang bersifat induktif, yang merupakan inversi atau arah terbalik dari arah model tradisional.
Ada lima langkah dalam pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu:
1.      Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru. Di dalam unit eksperimen ini diadakan studi yang saksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan langkah dalam kegiatan unit eksperimen ini, yaitu:
a.       Mendiagnosis kebutuhan.
b.      Merumuskan tujuan-tujuan khusus.
c.       Memilih isi.
d.      Mengorganisasi isi.
e.       Memilih pengalaman belajar.
f.       Mengeorganisasi pengalaman belajar.
g.      Mengevaluasi.
h.      Melihat sekuens dan keseimbangan (Taba, 1962: 347-379).
2.      Menguji unit eksperimen. Meskipun unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di kelas eksperimen, tetapi masih harus diuji di kelas-kelas atau tempat lain untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya, serta menghimpun data bagi penyempurnaan.
3.      Mengadakan revisi dan kosolidasi. Dari langkah pengujian diperoleh beberapa data, data tersebut digunakan untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan.
4.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Apabila dalam kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh sifatnya yang lebih menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu masih harus dikaji oleh para ahli kurikulum dan para profesional kurikulum lainnya.
5.      Implementasi dan desiminasi, yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas.
6.                   Roger interpersonal relations model
Meskipun Rogers bukan seorang ahli pendidikan (ia ahli psikologi atau psikoterapi) tetapi konsep-konsepnya tentang psikoterapi khususnya bagaimana membimbing individu juga dapat diterapkan dalam bidang pendidikan dan pengembangan kurikulum.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model rogers, yaitu:
1.      Pemilihan target dari sistem pendidikan. Di dalam penentuan target ini satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif.
2.      Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Sama seperti yang dilakukan para pejabat pendidikan, guru juga turut serta dalam kegiatan kelompok.
3.      Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Selama lima hari penuh siswa  ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau administrator atau fasilitaor dari luar.
4.      Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok. Kegiatan ini dapat dikoordianasi oleh BP3 msing-masing sekolah. Kegiatan ini bertujuan memperkaya orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, anak, dan dengan guru.
7.                   The systematic action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan mayarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional.
Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research. Langkah-langkahnya yaitu:
1.      Mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-fakor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut.
2.      Implementasi dari keputusan yang diambil. Tindakan ini segera didikuti oleh kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1)      Menyiapkan data bagi eavaluasi tindakan.
2)      Sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi.
3)      Sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi.
4)      Sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
8.                   Emerging technical model
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya:
1.      The Behavioral Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku yang sederhanayang tersusun secara hierarkis.
2.      The System Analysis Model berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah-langkahnya:
a.       Menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa.
b.      Menyusun instrumen untuk  menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut.
c.       Mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan.
d.      Membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
3.      The Computer-Based Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Dalam mengembangkan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagi berikut :
a.      Prinsip relevansi
b.      Prinsip fleksibilitas
c.       Prinsip  Kontonuitas
d.     Prinsip  Efektifitas
e.      Prinsip  evisiensi
2.      Ada tiga factor yang mempengaruhi pengembanga kurikulum, yaitu :
a.      Perguruan tinggi
b.      Masyarakat
c.       Sistim nilai
3.      Artikulasi dan hambatan pengembangan kurikulum
Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi, merevisi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan kurikulum.
Dalam pengembangan kurikulum memiliki beberapa hambatan, diantaranya:
a.       Dari factor guru
b.      Dari factor masyarakat
c.       Dari factor biaya


4.      Terdapat beberapa model dalam pengembangan kurikulum, diantaranya:
a.      The administrative modle’s
b.      The grass roots model
c.       Beuchamp’s system
d.     The demonstration model
e.      Taba’s inverted model
f.        Roger interpersonal relations model
g.      Emerging technical model
h.      The systematic action-research model














DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Syaodih, Nana. Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulum Toeori          dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http:// Faktor - faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum ,,Fadlibae weblog’s. htm