BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan
rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan
bagi siswa di sekolah (Nana Sukmadinata: 1997. Hlm: 150). Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan
perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli
kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidikan, pejabat pendidikan, pengusaha serta
unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud member
pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan
perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri,
keluarga, maupun masyarakat.
Sedangkan Pengembangan kurikulum adalah istilah yang
komprehensif, yang mana didalamnya mencakup beberapa hal diantaranya adalah:
perencanaan, penerapan dan evaluasi. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya
melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di
dalamnya melibatkan banyak orang, seperti: di dalam mengembangkan sebuah
kurikulum juga harus menganut beberapa prinsip dan melakukan pendekatan
terlebih dahulu, sehingga di dalam penerapannya sebuah kurikulum dapat mencapai
sebuah tujuan seperti yang di harapkan. Dan mengenai prinsip-prinsip dasar
pengembangan kurikulum akan kami jelaskan selengkapnya dalam pembahasan.
B. Rumusan Masalah
1.
Prinsip-prinsip apakah yang
dipakai dalam pengembangn kurikulum?
2.
Faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi pengembangan kurikulum?
3.
Artikulasi dan hambatan yang
mempengaruhi pengembangan kurikulum?
4.
Model-model apa saja yang
digunakan dalam pengembangan kurikulum?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Dalam usaha
untuk mengembangkan kurikulum ada beberapa prinsip dasar yang harus kita
perhatikan, agar kurikulum yang kita jalankan
benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Prinsip-prinsip dasar yang akan
digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan
kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Menurut Nana Sukmadinata (1997:150) ada dua prinsip dalam pengembangan
kurikulum, yaitu prinsip umum dan prinsip khusus.
1.
Prinsip Umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulun, diantaranya:
a.
Prinsip relevansi
Ada dua relevansi yang herus
dimiliki kurikulum, yaitu:
a)
Relevansi keluar, maksudnya tujuan,
isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan
(sesuai) dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat.
b)
Relevansi di dalam, yaitu ada
kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara
tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian.
b.
Prinsip fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memilih
sifat lentur/feksibel
c.
Prinsip kontinuitas
Prinsip kontinuitas yakni adanya kesinambungan antara berbagai tingkat
sekolah, dan antara berbagai tingkat bidang studi dalam kurikulum, baik secara
vertikal, maupun secara horizontal.
d.
Prinsip efisien
Prinsip efisien berhubungan dengan perbandingan antar tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh kurikulum dikatakan
memiliki tingkat efesien yang tinggi apabila dengan sarana,biaya yang minimal
dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.
e.
Prinsip efektivitas
Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat
dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
2.
Prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan
penilaian.
a.
Perinsip berkenaan dengan
tujuan pendidikan
Perumusan komponen-komponen
kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan.
b.
Prinsip berkenaan dengan
pemilihan isi pendidikan
Para perencana kurikulum perlu
mempertimbangkan beberapa hal yang sesuai dengan ke butuhan pendidikan dalam
memilih isi pendidikan yaitu:
1)
Perlu penjabaran tujuan
pendidikan
2)
Isi bahan pelajaran harus
meliputi segi pengetahuan, sikap dan keterampilan
3)
Unit-unit kurikulum harus
disusun dalam urutan yang logis dan sistematis
c.
Prinsip berkenaan dengan
pemilihan proses belajar mengajar
Dalam menentukan proses
belajar mengajar hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kecocokan
metode mengajar, variasi mengajar, urutan kegiatan, pencapaian tujuan, keaktifan, perkembangan, jalinan kegiatan belajar
disekolah dan dirumah
d.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Beberapa prinsip yang
dijadikan pegangan untuk menggunakan media atau alat bantu pembelajaran, yaitu:
1)
media atau alat yang
diperlukan
2)
pengorganisasian alat
3)
pengintegrasian dalam kegiatan
belajar
e.
Prinsip berkenaan dengan
pemilihan kegiatan penilaian.
Dalam pengembangan kurikulum
harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi yaitu : objektifitas,
komprehensif, kooperatif, mendidik, akuntabilitas, dan praktis.
B.
Faktor - faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum
Menurut Nana Sukmadinata (1997:158) ada tiga faktor yang mempengaruhi
pengembangan kurikulum:
1.
Perguruan tinggi
Perguruan tinggi setidaknya
memberikan dua pengaruh terhadap kurikulum
Pertama, dari pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Pengetahuan
dan teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses
pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi akan
mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan
teknologi selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu
dan media pendidikan.
Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan
serta penyiapan guru-guru diperguruan keguruan (lembaga pendidikan tenaga
kependidikan). Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui
penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya.
2.
Masyarakat
Sekolah merupakan bagian
dari masyarakat, yang diantaranya bertugas mempersiapkan anak didik untuk dapat
hidup secara bermartabat di masyarakat. Sebagai bagian dan agen masyarakat,
sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di tempat sekolah
tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi masyarakat
penggunanya serta upaya memenuhi kebutuhan dan tuntutan mereka.
Masyarakat yang ada di
sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat yang homogen atau heterogen.
Sekolah berkewajiban menyerap dan melayani aspirasi-aspirasi yang ada di
masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha.
Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarkat akan mempengaruhi pengembangan
kurikulum. Hal ini karena sekolah tidak hanya sekedar mempersiapkan anak untuk
selesai sekolah, tetapi juga untuk dapat hidup, bekerja, dan berusaha. Jenis
pekerjaan yang ada di masyarakat berimplikasi pada kurikulum yang dikembangkan
dan digunakan sekolah.
3.
Sistem nilai
Dalam
kehidupan bermasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan,
sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga
bertangung jawab dalam pemeliharaan dan pewarisan nilai-nilai positif yang
tumbuh di masyarakat.
Sistem nilai
yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam
kurikulum. Persoalannya bagi pengembang kurikulum ialah nilai yang ada di
masyarakat itu tidak hanya satu. Masyarakat umumnya heterogen, terdiri dari
berbagai kelompok etnis, kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok
sosial, dan kelompok spritual keagamaan, yang masing-masing kelompok itu
memiliki nilai khas dan tidak sama. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek
sosial, ekonomi, politk, fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya.
Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda.
Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasi berbagai nilai
yang tumbuh di masyarakat dalam kurikulum sekolah, diantaranya :
a.
Mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam
masyarakat.
b.
Berpegang pada prinsip demokratis, etis, dan moral.
c.
Berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut
ditiru.
d.
Menghargai nlai-nilai kelompok lain.
e.
Memahami dan menerima keragaman budaya yang ada.
C. Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum
Artikulasi
dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar”.
Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara
menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi,
merevisi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan
kurikulum. Bila artikulasi dilaksanakan dengan baik akan terwujud kesinambungan
pengalaman belajar sejak TK sampai perguruan tinggi, juga antara satu bidang
studi dengan bidang studi lainnya.
Dalam
mengusahakan artikulasi kurikulum tersebut murid pun perlu dimintakan
pendapatnya tentang hubungan pelajaran yang satu dengan yang lainnya, hubungan
antara satu tingkat dengan tingkat berikutnya. Salah satu hal yang sering
dipandang menghambat artikulasi adala pembagian menurut tingakat belajarnya.
Hambatan-hambatan
Pengembangan Kurikulum
Dalam
pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan, yaitu
1. Guru
Guru kurang
berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal
yaitu:
1) Kurang
waktu
2) Kekurangsesuaian
pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan
administrator.
3) Karena
kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.
2. Masyarakat
Untuk pengembangan
kurikulum butuh dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam
memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang
berjalan.
3. Biaya
Untuk pengembangan
kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi, atau
sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
D. Model-Model Pengembangan Kurikulum
Dalam buku karangan Nana Sukmadinata (Pengembangan
Kurikulum Teoritis Dan Praktis, 1997:161) ada delapan model pengembangan
kurikulum, yaitu:
1.
The administrative model
Model
pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak
dikenal. Diberi nama administratif atau line
staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator
pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang
administrasinya, administrator pendidikan membentuk suatu komisi/tim pengarah
pengembangan kurikulum, tim kerja pengembangan kurikulum dan tim pengembang
kurikulum. Tugas tim/komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar,
landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama dalam pengembangan
kurikulum. Setelah tim komisi selesai dalam menjalankan tugasnya, hasilnya akan
dijadikan kurikulum yang sesungguhnya, yang lebih oprasional, dijabarkan dari
konsep-konsep dan kebijaksanaan dasar yang telah digariskan oleh tim pengarah.
Tugas ini dilaksanakan oleh tim oleh tim
kerja pengembangan kurikulum. Setelah tugas dari tim kerja pengembangan
kurikulum selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain
yang berwenang. Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan, administrator
pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan
sekilah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tesebut.
2.
The grass roots model
Model pengembangan ini
merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum,
bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model
pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan
pendidikan atau kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem
pendidikan yang bersifat gross roots seorang guru, sekelompok guru atau
keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.
Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum
yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu
atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk bidang studi
sejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau
daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan morl
grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu
dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia
yang lebih mandiri dan kreatif.
3.
Beuchamp’s system
Model pengembangan
kurikulum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp
mengemukakan lima hal didalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu:
1. Menetapkan arena atau
lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum
tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi atau seluruh
negara.
2. Menetapkan personalia,
yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada
empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum,
diantaranya:
a. Para
ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para
ahli bidang ilmu dari luar.
b. Para
ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih.
c. Para
profesional dalam sistem pendidikan.
d. Profesional
lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
3. Organisasi dan prosedur
pengembangan kurikulum. Dan dalam menetukan
keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam
lima langkah, yaitu:
a. Membentuk
tim pengembang kurikulum.
b. Mengadakan
penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan.
c. Studi
penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
d. Merumuskan
kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru.
e. Penyusunan
dan penulisan kurikulum baru.
4. Implementasi kurikulum.
Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum
yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh,
baik kesiapan guru-guru siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping
kesiapan menejerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat.
5. Evaluasi kurikulum.
Langkah ini mencakup empat hal, yaitu:
a. Evaluasi
tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru.
b. Evaluasi
desain kurikulum.
c. Evaluasi
hasil belajar siswa.
d. Evaluasi
dari keseluruhan sistem kurikulum.
4.
The demonstration model
Model demonstrasi pada
dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh
sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan
perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu
atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan
komponen kurikulum.
Menurut Smite, Stanlay,
dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini, yaitu:
1. Sekelompok
guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu
percobaan tentang pengembangan kurikulum.
2. Kurang
bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum
yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.
Ada beberapa kebaikan
dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini, yaitu:
1. Karena
kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan
dilaksanakan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih
praktis.
2. Perubahan
atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus,
sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan dengan perubahan
dan penyempurnaan yang menyeluruh.
3. Pengembangan
kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan
yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada.
4. Modeel
ini sifatnya yang grass roots menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan
nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk
mengembangkan program baru.
Kelemahan model ini, adalah bagi guru-guru
yang tidak turut berpartisipasi mereka akan menerimanya dengan enggan-enggan,
dalam keadaan teburuk mungkin akan terjadi apatisme.
5.
Taba’s inverted model
Menurut cara yang
bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif, dengan
urutan:
1. Penentuan
prinsip-prinsip dan kebijaksanaan dasar.
2. Merumuskan
desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan atas komukmen-komikmen
tertentu.
3. Menyusun
unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang menyeluruh.
4. Melaksanakan
kurikulum di dalam kelas.
Taba berpendapat model
deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi.
Menurutnya pengembangan kurikulum byang lebih mendorong inovasi dan
kretivititas guru-guru adalah yang bersifat induktif, yang merupakan inversi
atau arah terbalik dari arah model tradisional.
Ada lima langkah dalam
pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu:
1. Mengadakan unit-unit
eksperimen bersama guru-guru. Di dalam unit
eksperimen ini diadakan studi yang saksama tentang hubungan antara teori dan
praktek. Ada delapan langkah dalam kegiatan unit eksperimen ini, yaitu:
a. Mendiagnosis
kebutuhan.
b. Merumuskan
tujuan-tujuan khusus.
c. Memilih
isi.
d. Mengorganisasi
isi.
e. Memilih
pengalaman belajar.
f. Mengeorganisasi
pengalaman belajar.
g. Mengevaluasi.
h. Melihat
sekuens dan keseimbangan (Taba, 1962: 347-379).
2. Menguji unit eksperimen.
Meskipun unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di kelas eksperimen,
tetapi masih harus diuji di kelas-kelas atau tempat lain untuk mengetahui
validitas dan kepraktisannya, serta menghimpun data bagi penyempurnaan.
3. Mengadakan revisi dan
kosolidasi. Dari langkah pengujian diperoleh
beberapa data, data tersebut digunakan untuk mengadakan perbaikan dan
penyempurnaan.
4. Pengembangan
keseluruhan kerangka kurikulum. Apabila dalam
kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh sifatnya yang lebih
menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu masih harus dikaji oleh para ahli
kurikulum dan para profesional kurikulum lainnya.
5. Implementasi dan
desiminasi, yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada
daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas.
6.
Roger interpersonal relations
model
Meskipun Rogers bukan
seorang ahli pendidikan (ia ahli psikologi atau psikoterapi) tetapi
konsep-konsepnya tentang psikoterapi khususnya bagaimana membimbing individu
juga dapat diterapkan dalam bidang pendidikan dan pengembangan kurikulum.
Ada empat langkah
pengembangan kurikulum model rogers, yaitu:
1. Pemilihan target dari
sistem pendidikan. Di dalam penentuan target ini
satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan adalah adanya kesediaan dari
pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif.
2. Partisipasi guru dalam
pengalaman kelompok yang intensif. Sama seperti
yang dilakukan para pejabat pendidikan, guru juga turut serta dalam kegiatan
kelompok.
3. Pengembangan pengalaman
kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran.
Selama lima hari penuh siswa ikut serta
dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau administrator atau
fasilitaor dari luar.
4. Partisipasi orang tua
dalam kegiatan kelompok. Kegiatan ini dapat
dikoordianasi oleh BP3 msing-masing sekolah. Kegiatan ini bertujuan memperkaya
orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, anak, dan dengan guru.
7.
The systematic action-research
model
Model kurikulum ini
didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.
Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa,
guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah
dan mayarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal
itu: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari
pengetahuan profesional.
Penyusunan kurikulum
harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara
untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research. Langkah-langkahnya yaitu:
1. Mengadakan
kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data
yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-fakor, kekuatan dan
kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut.
2. Implementasi
dari keputusan yang diambil. Tindakan ini segera didikuti oleh kegiatan
pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai
beberapa fungsi, yaitu:
1) Menyiapkan
data bagi eavaluasi tindakan.
2) Sebagai
bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi.
3) Sebagai
bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi.
4) Sebagai
bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
8.
Emerging technical model
Perkembangan bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam
bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh
kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya:
1. The Behavioral Analysis
Model, menekankan penguasaan perilaku atau
kemampuan. Suatu perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi
perilaku-perilaku yang sederhanayang tersusun secara hierarkis.
2. The System Analysis
Model berasal dari gerakan efisiensi bisnis.
Langkah-langkahnya:
a. Menentukan
spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa.
b. Menyusun
instrumen untuk menilai ketercapaian
hasil-hasil belajar tersebut.
c. Mengidentifikasi
tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan.
d. Membandingkan
biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
3. The Computer-Based
Model, suatu model pengembangan kurikulum
dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi
seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang
hasil-hasil yang diharapkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Dalam mengembangkan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagi
berikut :
a.
Prinsip relevansi
b.
Prinsip fleksibilitas
c.
Prinsip Kontonuitas
d.
Prinsip Efektifitas
e.
Prinsip evisiensi
2.
Ada tiga factor yang mempengaruhi pengembanga kurikulum, yaitu :
a.
Perguruan tinggi
b.
Masyarakat
c.
Sistim nilai
3.
Artikulasi dan hambatan pengembangan kurikulum
Untuk merealisasikan
artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang
hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi, merevisi metode serta
isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan kurikulum.
Dalam
pengembangan kurikulum memiliki beberapa hambatan, diantaranya:
a.
Dari factor guru
b.
Dari factor
masyarakat
c.
Dari factor
biaya
4.
Terdapat beberapa model dalam pengembangan kurikulum, diantaranya:
a.
The administrative modle’s
b.
The grass roots model
c.
Beuchamp’s system
d.
The demonstration model
e.
Taba’s inverted model
f.
Roger interpersonal relations
model
g.
Emerging technical model
h.
The systematic action-research
model
DAFTAR PUSTAKA
Prof.
Dr. Syaodih, Nana. Sukmadinata. 1997. Pengembangan
Kurikulum Toeori dan Praktek.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://
Faktor - faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum ,,Fadlibae weblog’s.
htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar