Kamis, 15 November 2012

SOSIOLOGI PNDDKN



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Pendidikan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar-mengajar, melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya di dalam maupun di luar sekolah. Anak itu berbeda-beda bukan hanya karena berbeda bakat atau pembawaannya akan tetapi terutama karena pengaruh lingkungan social yang berlain-lain. Ia datang ke sekolah dengan membawa kebudayaan rumah tangganya, yang mempunyai corak tertentu, bergantung antara lain pada golongan atau status sosial, kesukuan, agama, nilai-nilai dan aspirasi orang tuanya. Di sekolah ia akan memilih teman, kelompok, atau kliknya yang pada suatu saat akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya.
Anak itu selanjutnya dipengaruhi oleh kepala sekolah dan guru-guru, yang masing-masing mempunyai kepribadian sendiri-sendiri yang antara lain terbentuk atas golongan sosial dari mana ia berasal dan orang-orang yang dipilihnya sebagai kelompok pergaulannya.
Kepribadian guru mempengaruhi suasana kelas, kebebasan yang dinikmati anak dalam mengeluarkan buah pikirannya dan mengembangkan kreativitasnya atau pengekangan dan keterbatasan yang dialaminya dalam pengembangan pribadinya. Guru juga terbatas dalam kebebesannya menurut pribadi kepala sekolah dalam sikapnya terhadap atasannya.
Untuk lebih jelasnya penulis akan membicarakan peranan guru serta kelakuannya berhubung dengan peranannya itu. Oleh sebab itu penulis membuat makalah ini agar pembaca bisa mengetahui peranan guru dan kelakuan murid.

B.      Rumusan Masalah.

1.      Jenis-jenis  Hubungan apa saja antara guru dan murid?
2.      Apa sajakah Peranan guru dalam masyrakat?
3.      Apa sajakah Peranan guru lainya di sekolah dan respon belajarnya?

C.      Tujuan penulisan
1.      Pembaca dapat mengetahui peranan penting guru terhadap kelakuan murid.
2.      Pembaca dapat menambah wawasan tentang peranan guru di sekolah.
3.      Pembaca semakin memahami betapa guru sangat berperan penting dalam proses pendidikan kelakuan murid.










BAB II
PEMBAHASAN


A.      Jenis-jenis Hubungan Guru-Murid
Hubugan guru-murid banyak ragamnya bergantung pada guru, murid serta situasi yang dihadapi. Untuk mempelajarinya kita dapat bepegang pada tipe-tipe guru, misalnya guru yang otoriter  yang menjaga jarak dengan murid dan guru yang ramah, yang dekat serta akrab dengan muridnya.
Sebaliknya guru yang ramah akan dekat kepada muridnya. Murid-murid suka meminta dia turut serta dalam kegiatan rekreasi dan membicarakan soal-soal pribadi, namun mungkin diangap kurang berwibawa.
Tipe guru yang murni, yang sepenuhnya otoriter atau sepenuhnya ramah tentu tidak ada. Tiap guru akan mempunyai kedua sifat itu dalam taraf tertentu. Akan tetapi kedua tipe itu dapat dijadikan pegangan yang berguna untuk menganalisis hubungan antara guru dan murid. Respon murid terhadap peranan guru itu merupakan faktor utama yang menentukan efektivitas guru. Tipe kelakuan guru tertentu mungkin lebih efektif terhadap murid tertentu, misalnya bagi sejumlah murid tipe guru yang otoriter yang efektif, sedangkan bagi murid lain tipe guru yang ramah lebih sesuai.
Ada pula klasifikasi yang lain tentang peranan guru yakni dengan membedakan tipe guru yang dominatif dan yang integratif. Tipe guru yang dominatif mendominasi atau menguasai murid, menentukan dan mengatur kelakuan murid dan menginginkan konformitas dalam kelakuan mereka. Sebaliknya guru yang integratif membolehkan anak untuk menentukan sendiri apakah ia suka melakukan apa yang disarankan oleh guru.
Guru tidak akan banyak mencampuri, mengatur atau menegur pekerjaan anak, akan tetapi membiarkannya bekerja menurut kemampuan dan cara masing-masing. Tiap anak dihargainya menurut pribadinya masing-masing. Dengan demikian terjadi integrasi atau keharmonisan guru dan anak tanpa menimbulkan pertentangan. 
Sebenarnya klasifikasi guru dalam tipe dominatif dan integratif boleh dikatakan sama dengan tipe otoriter dan ramah atau “permissive”.

B.       Reaksi Murid Terhadap Peranan Guru
Proses pendidikan banyak terjadi dalam interaksi sosial antara guru dan murid. Sifat interaksi ini banyak bergantung pada tindakan guru yang ditentukan antara lain oleh tipe peranan guru.
Frank Hart pada tahun 1934 menanyakan kepada sejumlah 10.000 siswa Sekolah Menengah Atas guru yang bagaimana yang paling mereka sukai dan apa sebabnya mereka menyukainya. Alasan yang paling banyak dikemukakan ialah bahwa guru disukai bila ia “berperi kemanusiaan, bersikap ramah, bersahabat”. Juga sering disebut alasan seperti ”suka membantu dalam pelajaran, riang, gembira, mempunyai rasa humor, menghargai lelucon”. Sifat-sifat yang dihargai murid-murid itu sesuai dengan gambaran guru yang demokratis.
Dalam penelitian lain diperoleh hasil yang sama dengan metode yang agak berbeda. Murid-murid diminta menilai guru-guru mengenai kesanggupannya mengajar dan kelakuan guru terhadap murid. Yang paling disenangi oleh para siswa ialah guru yang ramah, yang paling sering turut serta dalam kegiatan rekreasi mereka, yang dapat dipercayakan soal-soal  pribadi, dan yang suka membantu dalam pelajaran. Yang kurang disukai ialah guru-guru yang sering mencela, marah, menggunakan sindiran atau kata-kata yang tajam.
Pada umumnya guru yang disenangi ialah guru yang sering dimintai nasihatnya, yang mau diajak bercakap-cakap dalam suasana yang menggembirakan, tidak menunjukkan superiotasnya dalam pergaulan sehari-hari dengan murid, selalu ramah, selalu berusaha memahami anak didiknya.
Sebaliknya guru tidak disukai bila ia sering marah, tak pernah ketawa, suka menyindir, tak mau membantu anak dalam kesulitan belajar, dan menjauhkan diri dari murid di luar kelas.


C.       Hubungan Antara Hasil Belajar Murid Dengan Kelakuan Guru
Untuk menilai efektifitas guru dalam mengajar dapat diminta pendapat penilik sekolah, Kepala sekolah dan juga murid.
Dalam suatu penelitian ternyata bahwa pertambahan pengetahuan murid dalam pelajaran rendah korelasinya dengan taraf disukainya guru itu oleh murid. Jadi guru yang disukai, yang ramah, yang suka bergaul dengan murid dalam kegiatan rekreasi, yang sering dimintai pendapatnya mengenai soal-soal pribadi, ternyata bukan guru yang efektif dalam menyampaikan ilmu. Walaupun penelitian ini belum dapat dipercayai sepenuhnya, namun dapat memberi petunjuk bahwa guru yang disenangi dan diangap guru yang baik tidak sebaik guru yang otoriter dalam menambah pengetahuan murid dan menyelesaikan bahan yang ditentukkan kurikulum.

D.      Kelakuan Murid Berhubungan Dengan Kelakuan Guru
Kita dapat mengamati kelakuan anak dalam kelas dan mencoba melihat hubungannya dengan tindakan guru. Tak semua perbuatan anak diakibatkan perbuatan guru. Juga tidak selalu mudah dipastikan bahwa kelakuan anak ada hubunganya dengan kelakuan guru.
Bila kita ambil tipe guru yang dominatif dan intergratif, maka kelakuan guru dapat kita klasifikasikan sebagai berikut :
1.      Dominasi guru dengan menimbulkan konflik,
2.      Dominasi guru tanpa menimbulkan konflik,
3.      Dominasi guru dengan mengakibatkan adanya kerja sama di kalangan murid,
4.      Intergrasi tanpa bukti adanya kerja sama,
5.      Intergrasi dengan adanya tanda kerja sama. 

Namun  kelakuan anak dalam kelas yang kita amati dapat berupa :
1.      Perbuatan yang menunjukkan ketegangan, rasa cemas yang tampak pada anak SD dengan mengisap jari, menarik-narik rambut,
2.      Perbuatan yang tak bertalian dengan pelajaran seprti melihat-lihat ke depan, kiri-kanan,
3.      Bercakap-cakap atau berbisik-bisik dengan anak lain,
4.      Main-main dengan sesuatu,
5.      Mematuhi apa yang disuruh lakukan oleh guru,
6.      Tidak mematuhi perintah guru, melakukan sesuatu yang menggangu pelajaran.

Pada umumnya perbuatan anak sebagai reaksi terhadap kelakuan guru dapat bersifat menurut atau tidak menurut, menyesuaikan diri dengan dengan perintah guru atau menentangnya. Anak yang menurut akan menunjukkan kerja sama, turut member sumbangan pikiran, mengajukan pertanyaan, member bantuan dan dengan demikian memperlancar pelajaran.
Dominasi guru tak selalu berhasil untuk mencapai kepatuhan sepenuhnya, bahkan dapat menimbulkan konflik atau tantangan sekalipun dalam bentuk yang tersembunyi. Selain itu dominasi guru terhadap murid-murid yang lain lebih lemah.
Berdasarkan Studi itu dapat dikemukakan hipotesis yang berikut :
1.      Guru yang dominatif dalam kelas akan menghadapi murid-murid yang tidak menunjukkan sikap kerja sama,
2.      Murid-murid di bawah pimpinan guru-guru yang dominatif juga akan bersikap dominatif terhadap murid-murid lain,
3.      Guru-guru yang integratif atau koperatif dalam hubungannya dengan murid akan menimbulkan sikap kerja sama pada muridnya, baik terhadap guru maupun terhadap murid lainnya.

Guru yang dominatif dapat menimbulkan sikap yang menentang. Mereka ingin diakui kepribadiannya. Khususnya pemuda pada masa puberitas justru ingin membentuk kepribadiannya sebelum memasuki masa kedewasaannya. Karena itu mereka peka akan ucapan atau tindakan yang menyinggung persaan dan harga-diri nya.  
Dalam Negara demokrasi diinginkan terbentuknya anak-anak dan warga Negara yang demokratis, yang suka member sumbangan pikirannya dan turut berpatisipasi dalam pemecahan masalah, yang spontan dan menunjukkan inisiatif.

E.       Peranan Guru Dalam Masyarakat Dan Respons Murid
Guru hendaknya mengenal masyarakat agar dapat menyesuaikan pelajaran dengan keadan masyrakat sehinga relevan. Guru-guru kita diharapkan mengabdi kepada masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dan dengan demikian turut memberi sumbangan terhadap pembangunan Negara.
Para siswa tidak begitu menghiraukan ada tidaknya partisipasi guru dalam berbagai kegiatan masyarakat. Guru yang baik mereka menilai berdasarkan kemampuan mengajar, sikapnya terhadap murid akan tetapi tidak dikaitkan dengan banyaknya kesibukan guru dalam masyarakat.

F.       Peranan Guru Lainnya Di Sekolah Dan Respons Murid
Di sekolah, guru dapat memegang berbagai peranan selain mengajar yakni sebagai kepala sekolah, pembimbing OSIS, Koordinator bidang studi,piket, dan lain-lain. Kepala sekolah pada umumnya lebih dihormati dan disegani oleh murid-murid, mungkin karena otoritasnya yang lebih besar, juga karena ia mempunyai wewenang, pengalaman dan usia lebih banyak. Kecuali sebagai kepala sekolah guru-guru tidak mendapat penghargaan khusus atas peranan dan tugas-tugas tambahan.







BAB III
PENUTUP


1.       KESIMPULAN :
a.      Guru yang baik adalah guru yang bisa mengkondisikan pembelajaran yang kondusif di dalam ruang kelas.
b.      Murid akan lebih patuh apabila guru yang mengajarkan pembelajarannya memiliki sifat yang baik.
c.       Murid akan menjadi susah diataur apabila guru pembimbingnya memiliki sifat yang egois.

2.       Saran-Saran :
a.         Sebagai guru janganlah memiliki sifat keras terhadap murid !
b.         Guru sebaiknya tidak terlalu memaksakan keinginan pribadi terhadap Murid !
c.         Sebagai guru yang baik haruslah membimbing muridnya dengan ihklas dan penuh tangung jawab ! 






Daftar Pustaka

Nasution, S. Sosiologi Pendidikan. 1999. Jakarta: Bumi Aksara