Minggu, 12 Mei 2013

hadist tarbawy





I.           Mata Kuliah                 : TAFSIR HADITS TARBAWY

Kode                               : STAIS.T.008

Jurusan                 : Tarbiyah
Program Studi      : PAI
Program                : S1.
Bobot                     : 2 Sks.

II.         Tolok Ukur Indikator Kompetensi (Target Hasi Belajar)

Setelah kuliah diharapkan mahasisawa memiliki pengetahuan tentang:
1.      berbagai tafsir ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan pendidikan
2.      berbagai hadis yang berkaitan dengan pendidikan.

III.      Topik Inti Materi Pembelajaran

1.   Pendahuluan
a.      Keutamaan Ilmu
1)     Al-Quran
a)     Surah al-Mujădilah ( 058) : 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي المَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ].المجادلة.11].
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Surah al- Zumar. (039) : 9
 قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ. [الزُّمر. 9]
Artinya: Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

2)      Al-Hadis
a)     Hadis Abu Musa al-Asy’ary riwayat al-Bukhăry Muslim dan al-Nasă’y tentang perumpamaan ilmu dan hidayah ( al-Khûly : 18-19).
b)     Hadis Abu Hurairah riwayat al-Turmudzy tentang kemudahan jalan menuju surga bagi penuntut ilmu. ( al-Turmudzy IV : 137)
c)      Hadis Abu Hurairah riwayat Ibnu Măjah tentang penuntut ilmu adalah mujahiud di jalan Allah ( Ibnu  Măjah I: 100-101).
b.      Belajar suatu kewajiban
2)     Al-Quran
Surah al-Taubah ( 09 ) : 122.
وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ{التوبة: 122}.  
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (1).
---------------
(1) Pada ayat suci ini terdapat keterangan tentang satu kaidah penting dalam al-Qur'ân, yaitu bahwa orang-orang mukmin tidak patut pergi semuanya ke medan perang atau pergi semua untuk menuntut ilmu, sebagaimana tidak dibenarkan pula untuk berfrustasi. Maka dari itu, sebaiknya ada dari setiap golongan satu kelompok yang menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuan agama, dan kemudian kembali untuk memberi petunjuk kepada kaumnya.


Al-Hadis
a)     Hadis ‘Abdullah bin ‘Amer riwayat al-Bukhăry, tentang perintah Nabi untuk mengajar ( menyampaikan sesuatu darinya) walau sekedar satu ayat. ( Fath al-Bary VI: 606, h. ke- 4361)
بلغوا عني ولو آية

b)     Hadis Anas bin Mălik riwayat Ibnu ‘Abdil Bar dll. Tentang sabda Nabi bahwa mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang muslim. ( Ibnu ‘Abdil Bar :18).

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
c.      Motivasi belajar
1)     Al-Quran
Surah ‘Ali ‘Imrăn ( 03) : 145.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآَخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ. [آل عمران: 145].
Artiny: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

2)     Al-Hadis
a)     Hadis ‘Umar bin al-Khaththăb riwayat Muttafaq ‘alaih, tentang sesuatu itu tergantung dengan niatnya atau harus disertai niat. ( al- Bukhăry, dalam kitab Bada`a al-Wahyu, atau al-Imăn, Muslim dalam kitab al-Imăn, (Fath al-Bary, h. no.1).
عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" (Bukhori)


b)     Hadis Ibnu ‘Umar riwayat al-Turmudzy, tentang ancaman Allah bagi siapapun yang mencari ilmu dengan niat selain Allah ) al-Turmudzy IV: 141).

عن ابْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Artunya:
Dari Ibnu Ka'b bin Malik dari bapaknya dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka". (turmudzi)

c)      Hadis Abu Hurairah riwayat Abu Dăwud, tentang penuntut ilmu dengan niat untuk memperoleh harta, tidak akan bisa mencium bau harumnya surga ( Abu Dăwud III: 439).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا . [حكم الألباني] : صحيح
Dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." (Abu Daud)

d.     Belajar untuk menatap masa depan
1)     al-Quran
Surah al-Hasyr ( 059) : 18.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18) ]. {الحشر}.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2)     al-Hadis
Nasehat al-Hasan bin ‘Ali kepada anak-anaknya bahwa belajar masa kini adalah persiapan menyongsong masa depan ( Ibnu ‘Abdil bar : 99).



e.      Kemungkinan berlangsungnya pendidikan
1)      Pendidikan tidak mampu merubah karakter manusia
a)     al-Quran
1)       surah Hud ( 011) : 34.
وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ(34) ]. {هود}.
Artinya: Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan."



2)       surah al-Baqarah ( 002) : 6-7.
[إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ(6) خَتَمَ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ(7) ]. {البقرة}.
Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Asbabun nuzul
 Jarir dan Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi 'Ikrimah dari Sa'id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa dua ayat itu (S. 2: 6,7) diturunkan di dalam peperangan al-Ahzab yang terjadi pada tahun ke 5 Hijriah yang berupa serangan umum yang memperlihatkan kekuatan angkatan perang kaum musyrikin menyerbu kota Madinah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ar-Rabi' dan Anas.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa firman Allah "Innalladzina kafaru sawa-un 'alaihim sampai walahum adzabun 'adhim" (S.2: 6,7) diturunkan tentang kaum Yahudi Madinah, yang menjelaskan bahwa mereka itu walaupun diperingatkan tetap tidak akan beriman.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ar-Rabi' dan Anas.)


b)     al-Hadis
1)       Hadis Abu Musa al-Asy’ary riwayat Muttafaq ‘alaih dan al-Nasă`y. ( al-Khûly : 18-19).
2)       Hadis riwayat al-Turmudzy, al-Hâkim, Ibnu Mâjah, Ahmad  dan Abu Ya’lâ, dlsb. ( al-Turmudzy III: h. ke-2286).
3)       Hadis tentang taqdir yang tidak bisa dirubah oleh siapapun( al-Turmudzy, III : hlm.302).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Ibnu Abbas berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pada suatu hari, beliau bersabda: "Hai 'nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan) " Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (turmudzi)

2)      Pendidikan mampu merubah karakter manusia.
a)     Al-Quran
1)       Surah al-Ra’d ( 013) : 11.
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ(11) ]. {الرعد}.

2)       Surah al-Kahf ( 018) : 29.
وَقُلِ الحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالمُهْلِ يَشْوِي الوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا(29) ]. {الكهف}.

b)     Al-Hadis
1)       Hadis Abu Hurairah riwayat al-Jamâh, tentang fitrah manusia dan hubungannya dengan lingkungan hidup.( Fath al-Bary hadis ke- 1358, atau 1359, atau 4775 atau 6599.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?" (bukhori)

2)       Hadis Abu Hurairah riwayat Abu Dâwud dan al-Tirmidzy, tentang seseorang tergantung dengan agama orang yang dicintainya. ( al-Sakhâwy. Al-Maqâshid al-Hasinnah…, hadis ke-1009, hlm.378.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman." (Turmudzi, Abu Daud, Ahmad)

3)       Hadis Tsaubân riwayat Ahmad, bahwa tak ada yang bisa merubah taqdir kecuali dengan do’a ( Ahmad, V: 277, 280, 282.


عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

Dari Salman dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do'a dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan." (Turmudzi)

2.   Guru  Atau Pendidik Dalam Proses Pendidikan
a.      Rasul adalah seorang guru
عنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوسًا بِبَابِهِ لَمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ قَالَ فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ فَدَخَلَ ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ فَأُذِنَ لَهُ فَوَجَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ وَاجِمًا سَاكِتًا قَالَ فَقَالَ لَأَقُولَنَّ شَيْئًا أُضْحِكُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ فَقُمْتُ إِلَيْهَا فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا كِلَاهُمَا يَقُولُ تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ فَقُلْنَ وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ ثُمَّ اعْتَزَلَهُنَّ شَهْرًا أَوْ تِسْعًا وَعِشْرِينَ ثُمَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ { يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ حَتَّى بَلَغَ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا } قَالَ فَبَدَأَ بِعَائِشَةَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ قَالَتْ وَمَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَتَلَا عَلَيْهَا الْآيَةَ قَالَتْ أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ قَالَ لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata; Suatu ketika Abu Bakar pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk memasuki rumah beliau dan dia mendapati beberapa orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau dan tidak satu pun dari mereka yang diizinkan masuk. Dia berkata: Lalu Abu Bakar pun diizinkan masuk, maka dia pun masuk ke rumah beliau. Setelah itu Umar datang dan meminta izin, dan dia pun diizinkan masuk. Di dalam rumah Umar mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang duduk, dan di sekeliling beliau nampak isteri-isteri beliau sedang terdiam dan bersedih. Ia berkata: Lalu Umar berkata; Sungguh saya akan mengucapkan satu perkataan yang dapat membuat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa. Dia berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau melihat anak perempuan Khorijah meminta nafkah (berlebihan) kepadaku niscaya akan saya hadapi dia dan saya pukul tengkuknya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tertawa seraya berkata: Mereka semua ada di sekelilingku, seperti yang kau lihat mereka semua sedang meminta nafkah (lebih) dariku. Maka Abu Bakar pun segera berdiri menghampiri 'Aisyah dan memukulnya. Demikian juga dengan Umar, dia berdiri menghampiri Hafshah dan memukulnya. Lantas keduanya berkata: Mengapa kalian meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sesuatu yang tidak dimilikinya? Lalu keduanya menjawab: Demi Allah, kami tidak akan meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sesuatu yang tidak dimilikinya. Lalu beliau ber'uzlah dari mereka selama sebulan atau selama dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat: "Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, -sampai Firman-Nya- Bagi orang-orang yang baik di antara kalian pahala yang besar". Dia berkata: Beliau memulainya dari 'Aisyah, beliau berkata kepadanya: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya saya hendak menawarkan suatu perkara kepadamu, dan saya harap kamu tidak tergesa-gesa dalam memutuskannya hingga kamu meminta persetujuan dari kedua orang tuamu." Aisyah berkata: Apa itu wahai Rasulullah? Maka beliau pun membacakan ayat tersebut di atas kepadanya. Aisyah berkata: Apakah terhadap anda, saya mesti meminta persetujuan kepada orang tuaku?! Tidak, bahkan saya lebih memilih Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir, dan saya mohon kepada anda untuk tidak memberitahukan pernyataanku ini kepada isteri-isterimu yang lain. Beliau menjawab: "Tidaklah salah seorang di antara mereka meminta hal itu kepadaku kecuali saya pasti memberitahukan hal ini kepadanya. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mengutusku untuk memaksa orang atau menjerumuskannya, akan tetapi Dia mengutusku sebagai seorang pengajar dan orang memudahkan urusan



Al-Quran surah al Baqarah ( 002) : 151.
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الكِتَابَ وَالحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ(151) ]. {البقرة}.

al-Jum’ah ( 062) : 3)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتَابَ وَالحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ(2) وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ العَزِيزُ الحَكِيمُ(3) ]. {الجمعة}.

b.      Guru adalah orang tua kedua bagi murid
Hadis Abu Hurairah riwayat Abu Dâwud, tentang Rasulullah seperti halnya orangtua yang mengajarkan sesuatu, A Abu Dawid I, hlm. 30, h. ke-8).
عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا اَنَا لَكُمْ مِثْلُ ْوَالِدِهِ (رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ و النَّسَاءِ وَابْنُ حِبَّانِ )
Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : Sesungghnya aku bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya. (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

c.      Syarat-syarat seorang guru

1)     Guru yang tidak profesional bisa menghancurkan murid,
Hadis Abu Hurairah riwayat al- Bukhăry, tentang jika suatu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya; ( al-Kirmăny II, 4-6).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ القَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ القَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ: «أَيْنَ - أُرَاهُ - السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ» قَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: «إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»
Dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: "Kapan datangnya hari kiamat?" Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; "beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, " dan ada pula sebagian yang mengatakan; "bahwa beliau tidak mendengar perkataannya." Hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: "Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?" Orang itu berkata: "saya wahai Rasulullah!". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat

2)     Guru harus bersifat kasih kepada anak didik.
Al-Quran surah ‘Ali ‘Imrăn ( 003) : 159.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ القَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِينَ(159) ]. {آل عمران}.


عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأشج عبد القيس : [ إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة ] رواه مسلم
Artinya: Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulallah Saw bersabda kepada ‘’Abdul Qais yang  terluka: “sesungguhnya didalam dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah yaitu: santun dan sabar”. (HR Muslim)

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ يَرْفَعُهُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيَرْضَى بِهِ وَيُعِينُ عَلَيْهِ مَا لَا يُعِينُ عَلَى الْعُنْفِ فَإِذَا رَكِبْتُمْ هَذِهِ الدَّوَابَّ الْعُجْمَ فَأَنْزِلُوهَا مَنَازِلَهَا فَإِنْ كَانَتْ الْأَرْضُ جَدْبَةً فَانْجُوا عَلَيْهَا بِنِقْيِهَا وَعَلَيْكُمْ بِسَيْرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ مَا لَا تُطْوَى بِالنَّهَارِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعْرِيسَ عَلَى الطَّرِيقِ فَإِنَّهَا طُرُقُ الدَّوَابِّ وَمَأْوَى الْحَيَّات
Dari Khalid bin Ma'dan dia memarfu'kannya, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta'ala, Maha Lembut dan mencintai sikap lemah lembut, ridla terhadapnya dan menolong orang yang lemah lembut tidak sebagaimana Dia tidak menolong orang yang kasar. Jika engkau mengendarai tunggangan dari hewan ini, berhentikan dia di tempat-tempatnya. Jika tanahnya kering maka percepatlah jalannya selama (kendaraan tersebut) masih kuat. Hendaknya kalian berjalan di malam hari, karena tanah itu dipendekkan (jaraknya) pada malam hari, beda dengan keadaannya pada siang hari. Janganlah kalian beristirahat di tengah jalan, karena itu adalah jalannya hewan dan tempat tinggal ular

3)     Guru hendaklah serius, berbicara tertib, jelas dan sesuai dengan kemampuan murid, kalau perlu tidak mengapa jika diulang-ulang

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا

Dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.
لا تغضب


4)     Guru tidak boleh mempersulit anak didik
Hadis Abu Burdah dari ayahnya, riwayat al-Bukhăry, tentang larangan mempersulit peserta didik; ( al-Kirmăny XVI: 170).
عَنْ أَنَسٍ اِبْنِ مَالِكٍ عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تَنَفَّرُوْا وَكَانَ يُحِبُّ الْتَخْفِيْفِ وَالتَّيْسِرِ عَلَى النَّاسِ  (رواه البخارى)
Dari Anas bin Malik R.A. dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda : Permudahkanlah dan jangan kamu persulit, dan bergembiralah dan jangan bercerai berai, dan beliau suka pada yang ringan dan memudahkan manusia (H.R Bukhori)
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الْأَمْرِ كُلِّهِ
Sesungguhnya Allah mencintai berlaku lemah lembut dalam segala sesuatu.
5)      Pendidik harus memberikan hak didiknya secara adil:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ يُعْطِيْ كُلَّ جُلُسَائِلِهِ بِنَصِبِهِ لَا يَحْسَبُ جَلِيْسُهُ أَنَّ اَحَدًا أَكْرَمُ عَلَيْهِ مِنْهُ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ)
Dari Ali R.A ia berkata : “Rasulullah SAW selalu memberikan kepada setiap orang yang hadir dihadapan beliau, hak-hak mereka (secara adil), sehingga diantara mereka tidak ada yang merasa paling diistimewakan.” (H.R Tirmidzi)
فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ


6)     Guru mengajar setahap demi setahap
Hadis Ibnu ‘Abbăs perihal sabda Nabi kepada Mu’ădz bin Jabal agar mengajari manusia setahap demi setahap;( ( al-Kirmăny XVI: 171-172).
السنن الكبرى للنسائي (3/ 45)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ: «إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمَا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ»

d.     Guru boleh menghukum anak didik yang nakal;
Hadis ‘Amer bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, riwayat Abu Dăwud, tentang perintah mengajar shalat kepada anak, dan jika setelah 10 tahun belum juga mematuhi, boleh dipukul ( Abu  Dăwud, I : 193; al-Sakhăwy, hlm. 381, h.ke-1013.)
عَنْ عُمَرُو بْنُ شُعَيْبِ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مُرُوْا اَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُم اَبْنَاءُ سبع سِنِيْنَ وَاضْرِبُهُمْ اَبْنَاءَ عَشَرَ وَ فَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِيْ الْمَضَاجِعِ ( رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدَ )
“Dari Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata : Raulullah SAW bersabda : “perintahkanlah anakmu untuk melakukan shalat, pada saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka pada saat mereka berusia sepuluh tahun jika mereka meninggalkan shalat dan pisahkanlah mereka dalam hal tempat tidur.” (HR. Abu Dawud)
Tata cara pelaksanaan hukuman:
إِغْفِرْ فَاِنْ عَاقَبْتَ فَعَاقِبْ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَاتَّقِ الْوَجْهَ
“Ampunilah, jika engkau memukulnya maka pukullah sesuai dengan kesalahannya tetapi hindarilah memukul muka”.


e.    Ancaman bagi guru yang tidak konsekuen
al-Quran
Surat al-Shaff ( 061) : 2 dan 3.
[يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3) ]. {الصَّف}.

Al-Hadis
Hadis Usămah bin Zaid, riwayat Muslim tentang hukuman bagi pengajar yang tidak melaksanakan ajarannya.( al-Nawăwy, XVIII: 118).
عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ e من سُئِلَ عن عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ الله بِلِجَامٍ من نَارٍ يوم الْقِيَامَةِ
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)



 Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

كنز العمال ج10/ص91
29109 - العالم بغير عمل كالمصباح يحرق نفسه ويضيء للناس

الديلمي - عن جندب 
Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)


29110 -  العالم والعلم والعمل في الجنة فإذا لم يعمل العالم بما يعلم كان العلم والعمل في الجنة والعالم في النار

أبو نعيم - عن أبي هريرة

29111 -  تعلموا ما شئتم فإن الله تعالى لن ينفعكم به حتى تعملوا

ابن عساكر - عن أبي الدرداء

24. Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na'im)



f.       Guru seyogyanya memiliki buku pegangan
Hadis Abu Juhaifah riwayat al-Bukhăry tentang pertanyaannya kepada ‘Ali r.a. ; ( Fath al-Bary I, hlm. 269, h. ke-111).

صحيح البخاري ج1 ص53
 عن أبي جحيفة قال   قلت لعلي هل عندكم كتاب قال لا إلا كتاب الله أو فهم أعطيه رجل مسلم أو ما في هذه الصحيفة قال قلت فما في هذه الصحيفة قال العقل وفكاك الأسير ولا يقتل مسلم بكافر

g.      Guru boleh mengajar dengan alat peraga
Hadis Anas riwayat al-Bukhăry tentang Nabi pernah menggambar dalam rangka menerangkan antara keinginan manusia dengan saat datangnya ajal; (Fath al-Bary XI, hlm. 283, h. ke-6417 dan 6418; Juz X, hlm. 536, h. ke-6005).

Hadits Rasul SAW membuat gambar persegi dan garis-garis lurus adalah sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ : خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (رواه البخاري)[5]
Artinya:
 “Nabi S.a.w membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: (persegi yang digambar Nabi). Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”(HR. Bukhari).
Beliau menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya sementara garis-garis kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.
“Jika manusia dapat selamat dan terhindar dari cengkraman satu musibah, musibah lain akan menghadangnya, dan jika ia selamat dari semua musibah, ia tidak akan pernah terhindar dari ajal yang mengelilinginya.”(HR. Bukhari).
Lewat visualisasi gambar ini, Nabi S.a.w menjelaskan di hadapan para sahabatnya, bagaimana manusia dengan cita-cita dan keinginan-keinginannya yang luas dan banyak, bisa terhalang dengan kedatangan ajal, penyakit-penyakit, atau usia tua. Dengan tujuan memberi nasehat pada mereka untuk tidak (sekedar melamun) berangan-angan panjang saja (tanpa realisasi), dan mengajarkan pada mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Merenungkan hadis ini menunjukan kepada kita betapa Rasulullah saw seorang pendidik yang sangat memahami metode yang baik dalam menyampaikan pengetahuan kepada manusia, beliau menjelaskan suatu informasi melalui gambar agar lebih mudah dipahami dan diserap oleh akal dan jiwa.
Dalam gambar ini beliau menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia yang memiliki harapan, angan-angan dan cita-cita yang jauh ke depan untuk menggapai segala yang ia inginkan di dalam kehidupan yang fana ini, dan ajal yang mengelilinginya yang selalu mengintainya setiap saat sehingga membuat manusia tidak mampu menghindar dari lingkaran ajalnya, sementara itu dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi berbagai musibah yang mengancam eksistensinya, jika ia dapat terhindar dari satu musibah, musibah lainnya siap menghadang dan membinasakannya dan seandanya ia terhindar dari seluruh musibah, ajal yang pasti datang suatu saat akan merenggutnya. [6]
  1. C.  Gambaran Rasulullah SAW Mengenai Gambar Persegi dan Garis-Garis Lurus
Garis adalah elemen yang terpenting (setidaknya begitu menurut para pakar fotografi). Tanpa ada garis, tidak akan ada bentuk, tanpa ada bentuk tidak akan ada wujud. Dan tanpa garis serta bentuk, tidak akan ada pola (pattern).
Sebenarnya sehari-hari kita selalu melihat elemen garis, hanya mungkin karena terlalu terbiasa mata kita tidak menyadarinya. Horison (garis cakrawala), alur sungai, garis pantai, pematang sawah, jalan, rel kereta api, tangga, gedung, ubin keramik dan lainnya. Garis ada dimana-mana.
Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya sering menggunakan analogi dengan menggunakan garis seperti di bawah ini:
Anas berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda : “Ini adalah mannusia dan ini adalah angan-angannya dan ini adalah ajalnya ketika ia berada dalam angan-angan tiba-tiba datang kepadanya garisnya yang paling dekat (yaitu ajalnya)”.
Hadits ini memperingatkan agar orang mempersedikit angan-angan karena takut kedatangan ajalnya yang tiba-tiba dan selalu ingat bahwa ajalnya telah dekat. Barang siapa yang mengabaikan ajalnya, maka patutlah dia didatangi ajalnya dengan tiba-tiba dan diserang ketika ia dalam keadaan terperdaya dan lengah, karena manusia itu sering terperdaya oleh angan-angannya.
Hadits seperti ini banyak dan serupa, serta juga mirip dengan hadits yang setelah ini, sehingga banyak gambaran garis yang dipahami dari hadits-hadits yang ada seperti :
Penjelasan di atas:
Rasulullah s.a.w mengambil patahan ranting dan membuat gambar segi empat di atas pasir. Lalu beliau menarik garis lurus ditengahnya. Dari garis tersebut, dibuat cabang-cabang tegak lurus. Lalu Beliau bersabda: ‘Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya yang telah mengitarinya atau yang mengelilinginya dan yang di luar ini adalah cita-citanya, sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan-rintangannya, jika ia berbuat salah, maka ia akan terkena garis ini, jika berbuat salah lagi maka garis ini akan mengenainya.
Inilah gambaran kehidupan manusia, katanya. Kerangka persegi empat ini adalah dunia, garis panjang di tengahnya menggambarkan kehidupannya selama di dunia. Garis di belakang persegi empat merupakan kehidupannya sebelum dilahirkan, dan garis setelahnya menggambarkan kehidupannya setelah diwafatkan. Inilah perbedaan orang yang beriman dan yang tidak. Orang yang tidak beriman hanya melihat garis kehidupannya di dalam dunia.
Pada suatu hari Rasulullah saw membuat garis lurus di atas pasir, lalu berkata: Inilah jalan Allah yang lurus. Kemudian beliau membuat garis-garis yang simpangsiur ke kanan dan ke kiri, ke utara dan ke selatan. Inilah jalan-jalan setan. Setiap garis itu setan menyeru. Dan sesungguhnya ialah jalanku yang lurus, maka ikutilah oleh kamu akan dia, janganlah engkau mengikuti jalan yang bersimpang siur itu yang akan memisahkan kamu dari jalan-Nya. Demikian Allah memerintahkan kepadamu, mudah-mudahan kamu diberkati.”
Ilustrasi
Sebagian ulama mencontohkannya dengan pelepah kurma yang menjulur hingga ke tanah. Sekiranya seekor serangga merayap naik melalui batangnya, niscaya ia akan sampai ke atas dan dapat menikmati buah kurma yang diinginkannya, artinya ia telah selamat sampai ke tujuan. Lain ceritanya jika ia naik melalui pelepah daun kurma yang menjulur ke kanan dan ke kiri itu, baru saja ia mencoba merayap naik pasti sudah terjatuh. Batang itulah jalan Allah, sementara pelepah daun kurma itu adalah jalan-jalan setan.Jalan Allah yang merupakan shiratul mustaqim sangat jelas terlihat.
Sebenarnya kita hidup di dunia ini, meniti perjalanan waktu, menuju satu tujuan yang pasti. Sebagai muslim, harapan kita, tujuan kita adalah surga. Perjalanan ini tidak pernah mulus. Selalu saja ada gangguan dari syaitan untuk mengalihkan kita dari jalan yang lurus, menuju jurang-jurang kesesatan. Tapi kita tidak sendirian. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar, dan meluruskan setiap kali kita jatuh dan tersesat.
Ali bin Abu Thalib berkata : “Dunia berjalan meninggalkan (manusia) sedangkan akhirat berjalan menjemput (manusia) dan masing-masingnya punya penggemar, karena itu jadilah kamu penggemar akhirat dan jangan menjadi penggemar dunia. Sesungguhnya masa ini (hidup di dunia) adalah masa beramal bukan masa peradilan, sedangkan besok (hari akhirat) adalah masa peradilan bukan masa beramal”.
Abdullah bin Umar berkata : “Rasulullah SAW melihat aku ketika aku dan ibuku sedang memperbaiki salah satu pagar milikku. Beliau bertanya: ‘‘sedang melakukan apa ini wahai Abdullah?’’ Saya jawab: ‘‘Wahai Rasulullah, telah rapuh pagar ini, karena itu kami memperbaikinya’’. Lalu beliau bersabda : ‘‘Kehidupan ini lebih cepat dari rapuhnya pagar ini’’. Kita memohon kepada Allah semoga kita dirahmati dan dijadikan orang yang zuhud terhadap kehidupan dunia dan menjadikan kita bersemangat mengejar apa yang ada di sisi-Nya dan menjadikan kita memperoleh kesenangan di hari kiamat. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Dermawan, Maha Pemurah, Maha Pengampun dan Maha Belas kasih.[7]
KESIMPULAN
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara (وساتل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima. Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperolah pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Hadits Rasul SAW  membuat gambar persegi dan garis-garis lurus adalah sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ : خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (رواه البخاري)
Beliau menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya sementara garis-garis kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.
Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya sering menggunakan analogi dengan menggunakan garis seperti di bawah ini:
Anas berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda : “Ini adalah mannusia dan ini adalah angan-angannya dan ini adalah ajalnya ketika ia berada dalam angan-angan tiba-tiba datang kepadanya garisnya yang paling dekat (yaitu ajalnya)”.
Hadits ini memperingatkan agar orang mempersedikit angan-angan karena takut kedatangan ajalnya yang tiba-tiba dan selalu ingat bahwa ajalnya telah dekat. Barang siapa yang mengabaikan ajalnya, maka patutlah dia didatangi ajalnya dengan tiba-tiba dan diserang ketika ia dalam keadaan terperdaya dan lengah, karena manusia itu sering terperdaya oleh angan-angannya.

3.   Murid atau peserta didik
a.      Kapan mulai belajar
·         Pendidikan dimulai semenjak anak masih kecil sebelum baligh;
Al-Quran surah al-Nûr ( 024) : 57-58.
Hadis  Hasan bin Aswad riwayat Ahmad, tentang fitrah anak akan bertahan sebelum anak yang bersangkutan menjadi dewasa. ( Ahmad bin Hanbal III: 435)
Kapankah Anak Kecil Boleh Mendengarkan Pengajian?
صحيح البخاري ج1/ص41
عن عبد اللَّهِ بن عَبَّاسٍ قال أَقْبَلْتُ رَاكِبًا على حِمَارٍ أَتَانٍ وأنا يَوْمَئِذٍ قد نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  يُصَلِّي بِمِنًى إلى غَيْرِ جِدَارٍ فَمَرَرْتُ بين يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ وَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ فَدَخَلْتُ في الصَّفِّ فلم يُنْكَرْ ذلك عَلَيَّ

 Ibnu Abbas r.a. berkata, "Saya datang kepada orang yang datang dengan naik keledai, pada saat itu saya hampir dewasa dan Rasulullah saw. sedang [berdiri] shalat di Mina [pada waktu haji wada' [22]] tanpa dinding.[23] Saya melewati depan shaf [kemudian saya turun], dan saya melepaskan keledai itu makan dan minum lalu saya masuk ke shaf. (Dan dalam satu riwayat: Lalu saya berbaris bersama orang-orang di belakang Rasulullah saw.), dan tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu atasku."


·         Pendidikan diberikan ketika anak berusia dini; ( hadis Mu’âdz bin ‘Abdillah bin Habib al-Juhany, tentang perintah Nabi untuk mengajar anak setelah anak mengerti mana yang kanan dan mana yang kiri; ( Abu Dâwud I, hlm. 193-194, h. ke- 497).

سنن أبي داود ج1/ص134
مُعَاذُ بن عبد اللَّهِ بن خُبَيْبٍ الْجُهَنِيُّ قال دَخَلْنَا عليه فقال لِامْرَأَتِهِ مَتَى يُصَلِّي الصَّبِيُّ فقالت كان رَجُلٌ مِنَّا يَذْكُرُ عن رسول اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  أَنَّهُ سُئِلَ عن ذلك فقال إذا عَرَفَ يَمِينَهُ من شِمَالِهِ فَمُرُوهُ بِالصَّلَاةِ
·          Pendidikan sesungguhnya dimulai ketika anak berumur 7 tahun; hadis ‘Amer bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya perihal perintah Nabi untuk mengajari anak melaksanakan shalat ketika berumur 7 tahun; ( Abu  Dâwud I, hlm. 193, h. ke- 494).
عَنْ عُمَرُو بْنُ شُعَيْبِ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مُرُوْا اَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُم اَبْنَاءُ سبع سِنِيْنَ وَاضْرِبُهُمْ اَبْنَاءَ عَشَرَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِيْ الْمَضَاجِعِ ( رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدَ )

b.      Berhati-hati dalam memilih kawan
·          al-Quran surat al-Nisâ` ( 004): 38.
وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَا بِاليَوْمِ الآَخِرِ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا(38) ]. {النساء}.

·          Hadis Abu Musa al-Asy’ary riwayat Muslim, tentang perumpamaan persahabatan dengan peniup api dengan penjual minyak harum; al-Nawâwy XVI: 178 kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab).
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap."

Bersahaja dalam berkawan
·         al-Quran surah al-Baqarah ( 002) : 216.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ القِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ(216) ]. {البقرة}.

·          Hadis Abu Hurairah riwayat al-Turmudzy, tentang perlunya bersahaja dalam berkawan; ( al-Turmudzy III, hlm. 243, h. ke- 2065)
Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh. (Mashabih Assunnah)




c.      Murid yang cerdik banyak inisiatip
1). Ilmu perlu dicatat;
  al-Quran surah al-Baqarah ( 002) :282.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِن(282) ]. {البقرة}.

   Hadis Ibnu ‘Abbăs riwayat al-Bukhăry tentang keinginan Nabi    untuk mendiktekan sesuatu ( Fath al-Bary I, hlm. 275, h. ke- 114).



2).        Murid yang pandai rajin mencatat; hadis Abu Hurairah riwayat al-Bukhăry, tentang apa yang dilakukan oleh ‘Abdullah bin ‘Amer bin al-‘Ăsh.( Fath al-Bary I, hlm 273, h. ke-113).

عن نافع بن عمر, قال, حدثنى ابن ابي مليكة, ان عائشة زوجة النبي صلى الله عليه وسلم, كانت ل اتسمع شيئا إلا راجعت فيه جتى تعرفه ... (رواه البخارى)
Artinya : Dari na’fi ibn umar, ia berkata, menceritakan kepadaku ibn abu mulaikah, bahwasanya ‘Aisyah istri Nabi SAW, tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan ia mengulangi lagi sehingga ia mengetahuinya benar-benar (HR. Bukhari).



4.   Macam-macam Pendidikan
a.      Pendidikan agama ( tauhid)
Al-Quran surah Lukmăn ( 031): 13.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(13) ]. {لقمان}.

1). Hadis Mu’ăwiyah riwayat al-Bukhăry tentang sabda Nabi siapapun dikehendaki Baik oleh Allah akan diberi kepahaman dalam agama; ( Fath al-Bary I, hlm. 217, h. ke- 71)

Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka ia dikaruniai kepahaman agama."[16]
2).     Hadis Muhammad bin Sîrîn riwayat Muslim, bahwa agama adalah ilmu; ( al-Nawăwy I, hlm. 84 ( bab Muqaddimah).
b.      Pendidikan budi pekerti
Budi pekerti Nabi adalah budi pekerti yang agung; al-Quran surah al-Qalam ( 068) : 4.
[وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ(4). {القلم}.


Al-Quran surah Lukmăn ( 031) :18-19)
[وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ(18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الحَمِيرِ(19) ]. {لقمان}.


1). Hadis riwayat imam Mălik, bahwa salah satu tugas Nabi adalah untuk meyempurnakan akhlak yang baik; ( al-Muwaththă` II, hlm. 404, h.ke-1723.)
2).  Hadis Abu Dzar riwayat al-Turmudzy, tentang perintah Nabi untuk bergaul dengan manusia dengan budipekerti yang baik; ( al_turmudzy III, hlm. 239, h.ke- 2053).
3).  Hadis Abu Hurairah riwayat al-Bukhăry, tentang tugas Nabi ialah untuk menyempurnakan akhlak; al-Bukhăry dalam kitab al-Adab al-Mufrad, hlm. 90, h. ke-273).
4). Hadis Jăbir bin Samurah riwayat al-Turmudzy, tentang perlunya mendidik anak dengan pendidikan akhlak; ( al-Turmudzy III:227).
c.      Pendidikan kecerdasan
Dalam al-Quran banyak ayat yang diakhiri dengan kalimat a fală tattafakkarûn, seperti dalam surah al-Baqarah (002) : 219, 266; al-An’ăm ( 006) : 50;  surah al-Hasyr ( 059) : 21.
Hadis Mu’ădz bin Jabal riwayat Abu Dăwud, tentang pertanyaan Nabi kepada Mu’ Mu’ădz bin Jabal bagaimana cara menghukumi manusia; ( Abu Dăwud, III: 412).
Hadis ‘Amer bin al-Ăsh riwayat Abu Dăwud, tentang hakim yang berijtihad; ( Abu Dăwud, III: 407).
d.     Pendidikan Kepribadian
Hadis ‘Ăisyah riwayat Muslim tentang wanita Makhzumiyah yang mencuri; ( al-Nawăwy XI: 186 h. ke-1688).
Hadis Hudzaifah Ibnu Yaman riwayat al-Turmudzy, tentang perlunya berprinsip dalam kehidupan; ( al-Turmudzy III: 246).
e.      Pendidikan ketrampilan
Al-Quran surat al-Anfal ( 008) :  61;
Hadis  ‘Uqbah bin ‘Ămir riwayat Abu Dăwud dll. Tentang perlunya pembekalan ketrampilan berperang ketika menghadapi musuh; ( Abu Dăwud III: 20).
f.       Pendidikan olah raga atau kesehatan
Hadis Abu Hurairah riwayat Muslim, tentang Allah lebih mencintai hambanya yang kuat dari pada hambanya yang lemah; ( al-Nawăwy, XVI: 215, h. ke- 2664).
g.      Pendidikan kesejahteraan
Al-Quran surat al-Qashash ( 028): 77.
Hadis Rifa’ah bin Răfi’ riwayat al-Bazzăr tentang matapencaharian yang paling baik; ( Bulûgh al-Marăm hadis ke- 800).
Hadis  riwayat al- Bukhăry tentang mencari kayu lebih utama ketimbang meminta-minta; ( al-Kirmăny IX: 199).
Hadis Anas bin Mălik riwayat Abu Dăwud dll. Tentang larangan meminta-minta; (Abu Dăwud II: 162).
Hadis  Sa’ad bin Abi Waqash riwayat al- Bukhăry Muslim dll. perihal meninggalkan  anak cucu dalam keadaan cukup lebih baik ketimbang menjadi peminta-minta; (al-Kirmăny XII: 61-62 atau XX: 3-4 atau Abu Dăwud III: 153).
h.     Pendidikan kemasyarakatan
Al-Quran surah  al-Baqarah ( 002) : 177.
Al-Quran surat al-Mă’ûn ( 107) 1-7.
Hadis Abu Hurairah riwayat Muslim tentang pertanyaan Allah terhadap orang yang tidak santun kepada orang lain; ( al-Nawăwy XVI: 125-126; h. ke- 2969).
i.        Pendidikan matematika, kealaman dan ke antariksaan
Al-Quran surat  Yunus ( ( 010) : 5
Al-Quran Surah Yasin (  036) : 38-40).
Al-Quran surah al-Nisă ( 004) : 11-12).
Al-Quran surah al-Rahmăn ( 055): 33.
Al-Quran surah al-hgasyiyah ( 088): 17-20.
Hadis  Ibnu ‘Umar riwayat al- Bukhăry, tentang generasi pertama dari umat Islam ini, tidak mampu membaca, menulis, dan berhitung;
( al-Lu’lu` wa al-Marjan II: 4, h.ke-655).
j.        Pendidikan Sejarah
Al-Quran surah al-Hasyr  (059): 18.
Al-Quran surah Yusuf ( 012): 111.
Al-Quran surah al-Hăqah ( 069): 4-8.
Al-Quran surah Ali ‘Imrăn (003) : 137
Al-Quran surah al-‘Ankabut ( 029) : 20.

5. Metode Mengajar
a.      metode ceramah ;
( hadis riwayat Abu Dăwud dll. Tentang ceramah Nabi dihadapan umat perihal seseorang yang diutus untuk menarik zakat, datang dengan membawa harta zakat dan hadiah (Abu Dăwud III: 186, h. ke-2946).
b.      metode Tanya jawab;
Hadis  Abdullah Ibnu Mas’ûd riwayat al- Bukhăry, tentang pertanyaan Ibnu Mas’ ûd amalan-amalan apakah yang paling utama; ( al- Kirmăny XII : 93).
c.      metode diskusi
Hadis  Jâbir bin ‘Abdillah riwayat Muslim tentang diskusi Sahabat dengan Nabi di sekitar lemak babi; ( al-Nawâwy, XI: 5-6; h. ke-1581).
d.     metode demonstrasi
Hadis ‘Amar riwayat al- Bukhăry, tentang Nabi mendomonstrasikan bagaimana cara bertayamum; (al-Kirmăny III: 232-233).
e.      metode berceritera
al-Quran surat Yusuf ( 012): 111
al-Quran surah al-A’răf ( 007) : 176.
Hadis  Abu Hurairah riwayat Muslim, tentang seorang yang berjalan di terik matahari tiba-tiba ada seekor anjing yang kehausan; (al-Nawâwy XIV: 241-242, h. ke- 2244).

IV.       Media Pembelajaran

1.         Papan tulis
2.         Fotocopy bahan/materi pilihan
3.         OHP/LCD
4.         Ruangan kelas
5.         Perpustakaan

V.         Evaluasi Pembelajaran

1.         Proses pembelajaran mahasiswa dievaluasi dengan Porto folio, di samping presensi dan partisipasi dalam perkuliahan
2.         Produk pembelajaran dievaluasi dengan ujian tengan semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS), dan tugas utama.

VI.       Referensi

1.        Al-Quran dan Terjemahnya
2.        Sunan Abi Dâwud
3.        Sunan al-Tirmidzy
4.        Musnad Ahmad bin Hanbal
5.        Al-Mustadrak, oleh al-Hâkim
6.        Al-Lu’lu` wa al-Marjan
7.        Fath al-Bary Syarah Shahih al-Bukhâry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar